Saturday, October 7, 2017

Makalah Ilmu Dirayah Hadits

MAKALAH ILMU DIRAYAH HADITS

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Hadits merupakan sumber hukum yang kedua setelah Al Qur’an, akan tetapi keaslian matan sebuah hadits tidak ada jaminan secara langsung baik dari Allah Subḥānahu Wa Ta'Ala maupun dari Rosululloh sendiri, beda halnya dengan Al Qur’an yang keasliannya mendapat jaminan dari Allah Subḥānahu Wa Ta'Ala.
Oleh karena itu, kita selaku ummat islam harus selektif terhadap teks – teks yang dikatakan hadits apakah itu sohih, hasan atau bahkan do’if. Untuk menyekesi hadits tersebut maka kita perlu mengetahui ulumul hadits.Diantara sebahagian dari ulumul hadits ada ilmu hadits dirayah.
Berangkat dari permasalahan di atas, maka dalam makalah ini akan di bahas sedikit tentang ilmu hadits dirayah.
Perumusan Masalah
Dalam pembahasan Hadits dirayah ini, penulis mencoba mengambil dari berbagai sumber, baik itu yang sudah di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia ataupun yang masih asli bahasa Arab.
Isi pembahasanya adalah pengertian ilmu hadits dirayah dari berbagai pandangan para ulama hadits dan cabang dari ilmu hadits dirayah.
Tujuan Penulisan Makalah
Setiap langkah yang kita lakukan itu harus ada maksud dan tujuan, jangan sampai kita melakukan suatu pekerjaan tanpa maksud dan tujuan, karena hal itu hanya akan membuang waktu kita untuk hal yang tidak berguna, maka dari itu ada beberapa tujuan penulis menyusun makalah ini, diantaranya adalah :
Untuk diajukan sbagai salah satu tugas mata kuliah ulumul Hadits;
Membuka pemikiran kita untuk lebih mengenal macam  macam Hadits;
Untuk mendapatkan ridho Allah Subḥānahu Wa Ta'Ala.

BAB II
PEMBAHASAN
ILMU HADITS DIRAYAH
Ilmu Hadits Dirayah, menurut bahasa dirayah berasal dari kata dara-yadri-daryan yang berarti pengetahuan. Maka seringkali kita mendengar Ilmu Hadits Dirayah Disebut-sebut sebagai pengetahuan tentang ilmu Hadits atau pengantar ilmu hadits.
Menurut imam Assyuthi, Ilmu Hadits Dirayah adalah ” ilmu yang mempelajari tentang hakikat periwayatan, syarat-syaratnya, macam-macamnya dan hukum-hukumnya, keadaan para perawi, syarat-syarat mereka, macam-macam periwayatan, dan hal-hal yang berkaitan dengannya”.
Ilmu Hadits Dirayah bisa juga disebut Ilmu Mustholah Hadits, Ulum al – hadis dan qowa’id at – tahdits.
Ulama hadits berbeda dalam memberikan definisi ilmu hadsit dirayah, meskipun dari berbagai definisi itu ada kemiripan batasab-batasan definisi. Ilmu hadits dirayah adalah pembahasan masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan yang diriwayahkan, apakah bisa diterima atau ditolak.
Menurt Imam At – Turmudzi yang dinamakan Hadits Dirayah adalah :
قَوَا نِيْنُ تُحَدُّ يَدْرِيْ بِهَا اَحْوَالُ مَتْنٍ وَسَنَدٍ وَكَيْفِيَةِ التَّحَمُلِ وَاْلأَدَاءِ وَصِفَاتِ الّرِجَالِ وَغَيْرِ ذَالِكَ
Artinya : Kaidah – kaidah untuk mengetahui keadaan sanad dan matan, cara menerima dan meriwayatkan, sifat – sifat perawi dan lain –lain.
Menurut Ibnu Al Akhfani Ilmu Hadits Dirayah adalah :
عِلْمٌ يُعْرَفُ مِنْهُ حَقِيْقَةُ الرِّوَايَةِ وَشُرُوطُهَا وَاَنْوَاعُهَا وَاَحْكَامُهَا وَحَالُ الرُّوَاةِ وَشُرُوطُهُمْ وَاَصْنَافُ اْلَمرْوِيَاتِ وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا.
Artinya :Ilmu pengetahuan untuk mengetahui hakekat periwayatan, Syarat – syarat, macam – macam, hukum – hukum hadits, serta untuk mengetahui keadaan para perawi baik syarat – syaratnya, macam – macam hadits yang diriwayatkan dan segala sesuatu yang berkaitan dengan nya.
Yang dimaksud dengan hakikat periwayatan adalah penukilan hadits dan penyandaran nya kepada sumber hadits atau sumber berita.
Yang dimaksud dengan syarat – syarat periwayatan adalah penerimaan perowi terhadap hadits yang diriwayatkan dengan bermacam -  macam cara, misalanya dengan as sima ( Pendengaran ), Al Qiro’ah ( Pembacaan ), Al asiah (berwasiat), Al Ijazah ( pemberian idzin dari perowi)
Yang dimaksud dengan macam – macam periwayatan adalah membicarakan tentang bersambung dan terputusnya periwayatan dan lain – lain. Yang dimaksud dengan hukum – hukum periwayatan adalah pembicaraan tentang diterima atau tidaknya sebuah Hadits.
Yang dimaksud dengan keadaan para perawi adalah pembicaraan tentang keadilan atau kecacadan para perawi serta syarat – syarat mereka dalam menerima dab meriwayatkan sebuah mata hadits.
macam – macam hadits yang diriwayatkan meliputi hadits – hadits yang dapat dihimpun pada kitab – kitab tasnif, Kitab tasnid an kitab mu’jam.
Syekh Al Atiyyah al ajhuri mengatakan dalam kitabnya Baiquniyah fi mustolahal hadits bahwa yang dimaksud dengan ilmu hadits dirayah adalah :
عِلْمٌ بِقَوَانِيْنِ اَيْ قَوَاعِدِ يُعْرَفُ بِهَا اَحْوَالُ السَّنَدِ وَاْلمَتَنِ مِنْ صِحَةٍ وَحَسَنٍ وَضَعْفٍ وَعُلُوٍ وَنُزُوْلٍ وَكَيْفِيَةِ التَّحَمُلِ وَالْأَدَاءِ وَصِفَاتِ الّرِجَالِ وَغَيْرِ ذَالِكَ
Artinya : Ilmu pengetahuan tentang kaidah – kaidah yang dapat mengetahui keadaan sanad dan matan dari segi sohih, hasan, do’if, uluw, Nazil serta cara menerima dan meriwayatkan serta sifat – sifat perawi dan lain – lain.
Yang dimaksud dengan sanad adalah menceritakan perjalanan sebuah matan hadits untuk menilai kualitas matan hadits tersebut apakah termasuk sohih, hasan atau bahkan do’if.Adapun yang dimaksud dengan matan adalah perkataan yang ada setelah selesai sanad. Sebagaimana syekh jalaludin as syuyuti mengatakan dalam kitabnya yang berjudul al fiyah :

عِلْمُ الْحَدِيْثِ ذُو قَوَانِيْنِ تُحَدُ   *    يُدْرَي بِهَا اَحْوَلُ مَتْنٍ وَسَنَدٍ
فَذَالِكَ اْلمَوْضُوعُ وَاْلمَقْصُودُ    *    اَنْ يَعْرِفَ الْمَقْبُوْلُ وَاْلمَرْدُوْدُ
وَالسَنَدُ الأِخْبَارُ عَنْ طَرِيْقِ    *    مَتْنٍ كَاالأِسْنَادِ لَدَى اْلفَرِيْقِ
وَاْلمَتْنُ مَاانْتَهَى اِلَيْهِ السَنَدُ    *    مِنَ اْلكَلاَمِ وَاْلحَدِيْثِ قَيَدُوا
Artinya : Ilmu hadits itu dibatasi dengan dua kaidah, yang dengan dua kaidah itu dapat diketahui keadaan matan dan sanad,  yang mana itu merupakan sasaran atau tujuan adanya ilmu hadits yaitu mengetahui mana hadits yang di terima, dan mana hadits yang di tolak, sanad adalah menceritakan perjalanan matan seperti bersandar kepada orang  orang yang ahli, dan matan adalah sesuatu yang datang setelah selesai sanad baik itu perkataan biasa atau sebuah hadits.
Ajjad Al Katib mendefinisikan ilmu hadits dirayah dengan :
مَجْمُوعَةُ الْقَوَاعِدِ وَالْمَسَائِلِ الَتِي يُعْرَفُ بِهَا حَالُ الرَوِيِ وَاْلمَرْوِيِ مِنْ حَيْثُ القَبُوْلِ وَالَردِ
Artinya : Kumpulan kaidah dan masalah untuk mengetahui keadaan rawi dan marwi (sanad dan matan ) dari segi maqbul dan mardudnya (diterima atau di tolaknya).
Istilah lain yang dipakai oleh ulama ahli hadits terhadap ilmu hadits dirayah adalah ilmu ushul al-hadits. Pada mulanya pembahasan yang menyangkut ilmu hadits dirayah sangat beragam. Kemudian muncullah beberapa ilmu yang bertalian dengan kajian analisis dan semuanya terangkum dalam satu nama, yakni ilmu hadits. Munculnya berbagai ilmu tersebut diakibatkan banyaknya topik tentang hadits dirayah tersebut dengan tujuan dan metodenya berbeda-beda. Berikut di antara ilmu-ilmu yang bermunculan dari berbagai ragam topik ilmu dirayah;
Ilmu Jarah Wa Al-Ta’dil
Ilmu ini membahas para rawi, sekiranya masalah yang membuat mereka tercela atau bersih dalam menggunakan lafad-lafad tertentu. Ini adalah buah ilmu tersebut dan merupakan bagian terbesarnya.
Ilmu Tokoh-Tokoh Hadits
Dengan ilmu ini dapat diketahui apakah para rawi layak menjadi perawi atau tidak. Orang yang pertama di bidang ini adalah al-bukhari (256 H). dalam bukunya thabaqat, ibn sa’ad (230 H) banyak menjelaskannya.
Ilmu Mukhtalaf Al-Hadits
Imam Nawawi berkata dalam kitab al-Taqrib, “ini adalah salah satu disiplin ilmu dirayah yang terpentinng.” Ilmu ini membahas hadits-hadits yang secara lahiriyah bertentangan, namun ada kemumkinan dapat diterima dengan syarat. Jelasnya, umpamanya ada dua hadits yang yang makna lahirnya bertentangan, kemudian dapat diambil jalan tengah, atau salah satunya ada yang di utamakan. Misalnya sabda rasulullah sallallahu alaihi wasallam , “tiada penyakit menular ” dan sabdanya dalam hadits lain berbunyi, “Larilah dari penyakit kusta sebagaimana kamu lari singa”. Kedua hadits tersebut sama-sama shahih. Lalu diterapkanlah jalan tengah bahwa sesungguhnya penyakit tersebut tidak menular dengan sendirinya. Akan tetapi allah Subḥānahu Wa Ta'Ala  menjadikan pergaulan orang yang sakit dengan yang sehat sebagai sebab penularan penyakit.
Di antara ulama yang menulis tentang ilmu mukhtalaf al-hadits adalah imam syafi’I (204 H), Ibn Qutaibah (276 H), Abu Yahya Zakariya Bin Yahya al-Saji (307 H) dan Ibnu al-Jauzi (598 H)
Ilmu Ilal Al-Hadits
Ilmu ini membahas tetentang sebab-sebab tersembunyinya yang dapat merusak keabsahan suatu hadits. Misalnya memuttasilkan hadits yang mungkati’, memarfu’kan hadits yang maukuf dan sebagainya. Dengan demikian menjadi nyata betapa pentingnya ilmu ini posisinya dalam disiplin ilmu hadits.
Ilmu Gharib Al-Hadits
Ilmu ini membahas tentang kesamaran makna lafad hadits. Karena telah berbaur dengan bahasa arab pasar. Ulama yang terdahulu menyusun kitab tentang ilmu ini adalah abu hasan al-nadru ibn syamil al-mazini, wafat pada tahun 203 H.
 Ilmu Nasakh Wa Al-Mansukh Al-Hadits
Ilmu nasakh wa al-mansukh al-hadits adalah ilmu yang membahas tentang hadits-hadits yang bertentangan yang hukumnya tidak dapat dikompromikan antara yang satu dengan yang lain.yang dating dahulu disebut mansukh (hadits yang dihapus) dan yang datang kemudian disebut nasikh (hadits yang menghapus).
Pengetahuan ilmu tentang nasikh mansukh ini merupakan ilmu yang sangat penting untuk dan wajib dikuasai oleh seorang yang akan mengkaji hokum syariat. Sebab tidak mungkin bagi seseorang yang akan membahas tentang hokum syar’I sementara ia tidak mengenal dan menguasai ilmu tentang nasikh mansukh.
Al-hazimi berkata: disiplin ilmu ini (nasikh mansukh) termasul kesempurnaan ijtihad. Karena, rukun yang paling penting dalam beriitihad adalah pengetahuan tentang penulilan hadits, dan sedangkan faidah dari pengetahuan tentang penikilan adalah pengetahuan tentang nasikh dan mansukh.
Nasikh adalah yang menghapus atau membatalkan. Kadang-kadang nasikh ini di lakukan oleh nabi sallallahu alaihi wasallam  sendiri, seperti, sabdanya, “Aku pernah melarang ziarah kubur, lalu sekarang berziarahlah, karena itu akan mengingattkanmu pada akhirat.”
Pendiri Ilmu Hadits Dirayah adalah Al-Qadhi Abu Muhammad Al-Hasan bin Abdurahman bin Khalad Ramahumuzi (w.360 H)
Pokok pembahasan ilmu dirayah itu dua, yaitu :
-Rijal al-sanad
-Jarah-ta’dil.
Dari pembahasan dua ulasan itu muncul penilaian, bahwa suatu matan hadits dinilai shahih, atau hasan atau dla’if. Kata penilaian seperti itu biasa disebut Mushthalah al-Hadits.
1.Rijal al-Sanad
Sering disebut riwayat perawi al-hadits, yaitu untaian informasi tentang sosok perawi yang menceritakan matan hadits dari satu rawi kepada rawi yang lain, sampai pada penghimpun hadits. Informasi itu menceritakan setiap rawi, dari segi kapan dia lahir dan wafatnya, siapa guru-gurunya, kapan tahun belajarnya, siapa murid-murid yang berguru kepadanya, dari daerah mana dia, kedatangan dia ke seorang guru kapan, dalam keadaan sehat, atau campur aduk kata-katanya (ikhtilath), atau dalam periwatan hadits terdapat illat (cacad) bagi perawi, atau bagi matan hadits, dan begitulah seterusnya.
Dari satu segi, persyaratan perawi hadits adalah muslim, aqil-baligh, kesatria (’adalah) dan kuat ingatan (dlabith), baik dlabith imgatan atau dlabit catatan Sedangkan cara penyampaiannya bisa menggunakan pendengaran teks dari guru kepada murid, murid membaca teks di depan guru, ijazah, timbang terima teks dari guru ke murid, tulisan guru yang terkirimkan, pengumuman guru, wasiat, dan penemuan tulisan guru oleh murid (wijadah). Semua bisa dikembangan dengan teknologi sekarang, seperti konsep dlabith bisa ditambah dengan catatan, atau website, atau sms dan sebagainya..
Tingkatan perawi hadits pertama adalah shahabat Rasulullah sallallahu alaihi wasallam . yaitu seseorang yang pernah bertemu Rasulullah sallallahu alaihi wasallam . dalam keadaan hidup, sadar dan beriman (Islam) sampai dia wafat dalam keadaan Islam.
Teknik penulisan matan hadits, sanadnya dimulai dari penyebutan sahabat Nabi, tabi’in, tabi’ al-tabi’in dan murid-muridnya, sampai guru perawi hadits yang ditulis oleh penghimpun hadits. Semua penyajian seperti itu biasanya ditulis oleh ulama mutaqaddimin dalam kitab karangannya masing-masing. Sedangkan penulisan ulama mutaakhirin dalam kitab-kitabnya hanya menyebutkan sahabat Nabi dan nama penghimpun matan hadits itu saja, seperti sebutan : Rawahu al-Bukhari dari Ibn Umar dan sebagainya. Penyajian seperti itu, baik penyajian ulama mutaqaddimin atau ulama mutaakhrin.
2.Jarah-ta’dil
adalah unsur ilmu hadits yang penting dalam menentukan perawi hadits, diterima atau ditolak matan haditsnya. Dengan kata lain hadits Nabi dinilai shahih atau tidak, didasarkan pada penilaian itu. Dari segi lain, klasifikasi tingkat tinggi-rendahnya nilai hadits pun, ditentukan oleh unsur itu juga. Atas dasar itu, hampir semua kitab Ulum al-Hadits, baik karya ulama mutaqaddimin atau mutaakhirin, selalu membahas jarah ta’dil.
Kitab-kitab yang membahas jarah-ta’dil banyak sekali, dengan metoda dan penyajian materi yang berbeda-beda. Tokoh yang pertama kali memperhatikan jarah ta’dil sebagai ilmu, adalah Ibn Sirin (w.110 H), Al-Sya’bi (w.103 H), Syu’bah, (w.160 H), dan al-imam Malik (w. 179 H.). Sedangkan tokoh yang pertama kali menulis kitab jarah-ta’dil adalah Yahya ibn Ma’in (168-223 H), Ali ibn al-Madini (161-234 H), dan Ahmad ibn Hanbal (164-241 H). Kemudian bermunculan kitab-kitab yang menulis jarah ta’dil.
Jarah ta’dil pada dasarnya diangkat dari ayat-ayat al-Qur’an, antara lain ayat 6 Surat al-Hujurat, dan beberapa hadits Nabi . Kemudian pemahaman terhadap ayat dan hadits itu dikongkritkan oleh ahli hadits untuk dijadikan sebagai konsep jarah ta’dil. Kemudian konsep itu diterapkan pada setiap orang yang akan menceritakan hadits Nabi. Sebenarnya, pekerjaan itu sudah dilakukan oleh pengamal hadits sejak dari zaman Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, zaman sahabat Nabi, dan ulama berikutnya. Tetapi gagasan itu baru dinormatifkan sebagai ilmu hadits, pada zaman tabi’in, seperti tersebut di atas.
Jarah ta’dil adalah sebuah ilmu yang menurut sifat dan tabiatnya adalah berkembang. Tetapi sesudah karya Ibn Hajar al-Asqallani, kitab yang muncul berikutnya hanya mengutip apa adanya, sehingga tidak ada komentar baru. Tulisan ini ingin mengajak pembaca untuk mengolah jarah-ta’dil menjadi sebuah ilmu yang berkembang.
Pengembangan jarah ta’dil berangkat dari dua kelompok pembahasan, yaitu :
Berangkat dari unsur rawi (pembawa hadits) dan unsur takhrij (metoda pengeluaran predikat jarah atau ta’dil pada seorang rawi yang ada dalam sanad).
Unsur dalil unsur penilaian. Yaitu unsur alasan ditetapkannya jarah atau ta’dil kepada seorang rawi, dan unsur norma-norma penilaian jarah atau ta’dil itu sendiri. Dua kelompok itulah merupakan pilar utama dalam bangunan Ilmu Hadits Dirayah.
Secara rinci, fokus pengembangan jarah ta’dil tersebar berdasarkan dua pemilahan.
Pemilahan matan hadits, seperti hadits akidah, hadits hukum, hadits muamalah, hadits sosial, hadits kepribadian, dan sebagainya.
Pemilahan rawi dari segi jarah atau ta’dil berdasarkan jenjang kaidahnya, sehingga muncul pengkelompokkan ulama pemikir jarah ta’dil menjadi ulama mutasyaddidin, ulama mutawassithin, atau ulama mutasahilin. Semua itu berangkat dari penilaian mereka terhadap rawi, sehingga ada rawi yang disepakati jarahnya, ada yang disepakati adilnya, dan yang paling banyak adalah ualam yang diikhtilafkan penilaian jarah dan ta’dilnya. Atas dasar itu, jarah-ta’dil dapat diterapkan pada konteks yang berbeda-beda.
Selain itu, Ilmu Hadits Dirayah juga mengolah matan hadits, dari segi penawaran beberapa metoda yang diperlukan oleh Ilmu Hadits Riwayah. Model-model pengolahan itu banyak sekali, tetapi dalam tulisan ini hanya disajikan dua model saja, yaitu matan hadits dan kebudayaan, atau mekanisme matan hadits.
Matan hadits dan kebudayaan terdiri atas tiga masalah, yaitu (1) bentuk-bentuk hadits Nabi meliputi hadits qudsi, hadits nabawi bukan qudsi, jawami’ al-kalim, hadits dzikir dan do’a, hadits riwayat bi al-makna, dan aqwal al-shahabah. Semua dikutip untuk dikembangkan, setelah ditafsirkan oleh para ulama dalam bentuk kitab. Penafsiran ulama dalam kitab-kitab itu disebut format hadits Gambarannya adalah sebagai berikut :
Matan Hadits Nabi dan kebudayaan (Format dan formatisasi oleh matan hadits)
Format hadits dinilai agama, sedangkan kehidupan masyarakat dinilai budaya, maka penerapan hadits kepada masyarakat disebut formatisasi. Yaitu pengolahan konsep penerapan hadits Nabi kepada masyarakat, sesuai dengan maksud yang dikehendaki oleh hadits itu. Unsur penerapan formatisasi ada lima, yaitu :
Penyusun konsep syarah yang berinisiatip untuk mengembangkan format hadits .
Misi format baik verbal atau non-verbal yang memiliki nilai, norma, gagasan, atau maksud yang dibawakan oleh format hadits.
Alat atau wahana yang digunakan oleh penyusun konsep, untuk menyampaikan pesan formatisasi kepada masyarakat.
Halayak atau komentator yang menerima formatisasi dari penyusun konsep,
Gambaran atau tanggapan yang terjadi pada penerima format setelah melihat formatisasi. Unsur ini tetap diperlukan untuk melihat perkembangan formatisasi.
Teori nasikh-mansukh diterapkan, ketika ada dua hadits yang isinya kelihatan bertentangan, dan susah dijadikan istinbath sebagai dalil hukum. Teori ini dikembangkan oleh Ilmu Ushul Fiqh ketika membahas hadits sebagai dalil hukum. Contohnya seperti sabda Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ”Saya melarang kamu sekalian tentang ziarah ke kuburan. Maka ziarahilah ke kuburan, karena itu mengingatkan kamu ke akhirat.” Riwayat Malik, Muslim, Abu Dawud, Al-Tirmizi dan al-Nasai.
Hampir semua kitab Dirayah Hadits membahas tentang nasikh-mansukh. Tokoh yang pertama kali menulis Dirayah tentag ini adalah Qatadah ibn Di’amah (w.118 H), tetapi kitab itu tidak dicetak sampai sekarang. Disusul oleh kitab ”Nasikh al-hadits wa mansukhuh” karya Al-Atsram (w. 261 H), disusul lagi oleh kitab ”Nasikh al-Hadits wa Mansukhuh” karya Ibn Syahin (w. 386 H). Tetapi kitab yang banyak beredar adalah Al-I’tibar fi al-Nasikh wa al-Mansukh min al-Atsar” karya Abu Bakar al-Hamdzani (w. 584 H).
 Asbab Wurud al-Hadits.
Teori ini membahas tentang latarbelakang datangnya sebuah hadits yang diterima oleh seorang rawi (shahabat). Pembahasan ini sama seperti ungkapan Ilmu Asbab al-Nuzul dalam Ulum al-Qur’an. Dalam kaitan ini, wurud al-hadits juga banyak membahas persesuaian (munasabat) antara satu matan hadits dengan matan hadits yang lain. Tokoh yang pertama kali membahas tentang Asbab Wurud al-Hadits adalah Abu Hafsh al-’Ukburi (w. 468 H). Tetapi kitab yang lebih lengkap adalah Al-Bayan wa al-Tarif fi Asbab Wurud al-Hadits al-Syarif karya Ibn Hamzah al-Dimasyqi (w. 1120 H).
Nasikh-Mansukh dan Asbab Wurud al-Hadits adalah dua teori Ilmu Hadits Dirayah yang berdekatan sasaranya, dan saling menunjang dalam penerapan makna. Nasikh-Mansukh dalam hadits tidak dapat diketahui tanpa melihat Wurud al-Hadits lebih dahulu. Hadits yang datang pertama disebut mansukh, dan hadits berikutnya disebut nasikh. Dua teori itu banyak dibahas oleh kitab-kitab Ulum al-Hadits.
Jika nasikh-mansukh dan wurud al-hadits hanya diolah dengan pendekatan tekstualis, seperti filosofis, atau yuridis, tologis saja, maka ilmu hadits tidak dapat berkembang. Salah satu model pengembangan masalah ini adalah menggunakan pendekatan interdisipliner, atau ilmu komunikasi dan ilmu sosial lainnya. Setidaknya ada dua sistem nilai yang diterapkan pada makna hadits yang berinteraksi, baik interaksi antara hadits dengan hadits, atau hadits dengan kasus yang melingkari. Dua sistem itu adalah sistem internal dan sistem eksternal (maa fi al-hadits dan maa haul al-hadits).
Sistem internal adalah semua sistem nilai yang dibawakan oleh sebuah hadits, ketika ia diterapkan pada satu makna, atau pada maksud hadits yang dituju. Nilai itu terlihat ketika hadits itu diberi interpretasi seperti nilai akidah, hukum fiqh, akhlak, nasihat, do’a dan sebagainya. Dalam istilah lain, sistem internal mencakup juga pola pikir, kerangka rujukan, struktur kognitif, atau juga sikap, yang dikandung oleh matan hadits.
Sedangkan sistem eksternal terdiri atas unsur-unsur yang ada dalam lingkungan di luar isi matan hadits. Lingkungan itu, termasuk struktur yang mendorong munculnya matan hadits, atau kejadian yang melatarbelakangi tampilnya sebuah hadits, atau jawaban Rasulullah sallallahu alaihi wasallam yang muncul karena pertanyaan sahabat. Lebih dari itu, pemecahan sebuah hadits yang ditulis oleh seorang perawi pun bisa diterima berdasarkan latarbelakang munculnya pemecahan itu.
Ulama pertama yang membukukan ilmu hadis dirayah adalah Abu Muhammad ar-Ramahurmuzi (265-360 H) dalam kitabnya, al-Muhaddis al-Fasil bain ar-Rawi wa al- wa ‘iz (Ahli Hadis yang Memisahkan Antara Rawi dan Pemberi Nasihat). Sebagai pemula, kitab ini belum membahas masalah-masalah ilmu hadis secara lengkap. Kemudian muncul al-Hakim an-Naisaburi (w. 405 H/1014 M) dengan sebuah kitab yang lebih sistematis, Ma’rifah ‘U1um al-Hadis (Makrifat Ilmu Hadis).

BAB III
KESIMPULAN
    Dari berbagai definisi yang ada pada pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa objek pembahasan ilmu dirayah hadits adalah keadaan para perawi dan marwinya. Dari ilmu Hadits dirayah ini lahir beberapa cabang diantaranya :
Ilmu Jarah Wa Al-Ta’dil
Ilmu Tokoh-Tokoh Hadits
Ilmu Mukhtalaf Al-Hadits
Ilmu Ilal Al-Hadits
Ilmu Gharib Al-Hadits
Ilmu Nasakh Wa Al-Mansukh Al-Hadits
Pokok pembahasan ilmu dirayah itu dua, yaitu :
Rijal al-sanad
Jarah-ta’dil.
Dari pembahasan dua ulasan itu muncul penilaian, bahwa suatu matan hadits dinilai shahih, atau hasan atau dla’if. Kata penilaian seperti itu biasa disebut Mushthalah al-Hadits.

DAFTAR PUSTAKA 
Drs. H. Mudasir. Ilmu Hadis, Pustaka setia Bandung cetakan 2 April 2005
Syekh Atiyyah Al Ajhuri, Baiquniyyah fi mustolahil Hadis, Haromaen sunkopuroh.
Haris Budi Blog, Ilmu Hadis Riwayat dan Diroyat , Upload 02 Januari 2012
Arynata, Resume Ilmu Hadits Uplod minggu 20 September 2009

No comments:

Post a Comment