Friday, October 6, 2017

Makalah Ilmu Riwayah Hadist


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Hadist adalah ilmu pengetahuan yang penting dalan kehidupan kita, karena hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Quran.Hadits dapat juga diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang membicarakan cara-cara persambungan hadits sampai kepada Rasulullah SAW., dari segi hal ihwal paraperawinya, yang menyangkut kedabitan dan keadilannya dan dari segi bersambung dan terputusnya sanad dan sebagainya.
Dalam memperdalam aqidah,kita juga harus mempelajari apa itu hadist dan pengaplikasiannya.Hadist itu sendiri mempunyai peran dan fungsi sebagai penentu dalam kehidupan umat Islam. Kehadiran hadits dalam kehidupan masyarakat menjadi penting takkala dalam Al-Qur’an tidak didapatkan penjelasan yang rinci dalam suatu persoalan. Hadits yang menjadi penjelas dalam Al-Qur’an sangatlah dibutuhkan dalam memahami Al-Qur’an. Hadits bersifat ظنى الورود(Zhannil wurud). Karenanya yang قطعى (qath’i) harus didahulukan daripada yangظنّى (Zhanni). Hadits juga berfungsi sebagai penjabaran Al-Qur’an. Hal ini berarti kedudukan yang menjelaskan setingkat dibawah yang menjelaskan.

1.2.Rumusan Masalah
Dari penjabaran latar belakang diatas, maka dalam makalah ini kami akan membahas beberapa hal yang mengenai ilmu riwayah hadist,yaitu:
a).Apa yang dimaksud dengan riwayah hadist ?
b).Bagaimana Asal mula ilmu riwayah hadist ?
c).Apa saja jenis dari riwayah hadist ?
d).Apa saja Macam-macam Ilmu Riwayah Hadist?
e).Bagaimana Perbedaan Ilmu Riwayah Hadist dan Dirayah Hadist ?
1.3.Tujuan Makalah
Dari rumusan masalah diatas,tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
a).Mahasiswa dapat mengetahui pengertian dari riwayah hadist.
b).Mahasiswa dapat mengetahui Bagaimana Asal mula ilmu riwayah hadist.
c).Mahasiswa dapat mengetahui jenis dari riwayah hadist.
d).Mahasiswa dapat mengetahui Macam-macam Ilmu Riwayah Hadist.
e).Mahasiswa dapat mengetahui Perbedaan Ilmu Riwayah Hadist dan Dirayah Hadist.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1Pengertian Riwayah Hadist
Kata Riwayah artinya adalah periwayatan atau cerita.Ilmu hadist riwayah secara bahasa berarti ilmu hadist yang berupa periwayatan.
Ada beberapa pendapat mengenai pengertian dari ilmu riwayah hadist,diantaranya sebagai berikut :
Menurut Al-Akfani sebagaimana yang dikutip oleh Suyuthi,bahwa pengertian ilmu riwayah hadist adalah ilmu yang berhubungan khusus dengan riwayah yang meliputi pemindahan (periwayatan) perkataan Nabi SAW dan perbuatannya,serta periwayatannya ,pencatatannya, dan penguraian lafal-lafalnya.
Menurut Muhammad ‘Ajjaji Al-Khatib, ilmu riwayah hadist adalah ilmu yang membahas tentang pemindahan(periwayatan) segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi SAW,berupa perkataan,perbuatan,taqrir(ketetapan atau pengakuan),sifat jasmaniah,atau tingkah laku (akhlak) dengan cara yang teliti dan terperinci.
Menurut Zhafar Ahmad bin Lhatif Al-Usmani al-Tahawani didalam Oawaid fi Ulum Al-hadist,ilmu riwayah hadist adalah ilmu yang dapat diketahui dengannya perkataan,perbuatan,dan keadaan Rasul serta periwayatan,pencacatan dan penguraian lafaz-lafaz.
Dari beberapa definisi diatas dapat disimpulkan bahwa ilmu riwayah hadist pada dasarnya adalah membahas tentang tata cara periwayatan,pemeliharan,dan penulisan atau pembukuan hadist Nabi SAW.
Jadi,ilmu riwayah hadist adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari hadist-hadist yang disandarkan kepada Nabi SAW baik berupa perkataan,perbuatan,taqrir,tabi’at maupun tingkah lakunya.
Objek pembahasan kajian ilmu riwayah hadist adalah hadist Nabi dari segi periwayatan dan pemeliharaannya.Hal tersebut mencakup :
a)Cara periwayatan Hadist,baik dari segi cara penerimaan dan demikian juga cara penyampaiannya dari seorang perawi kepada perawi lain.
b)Cara pemeliharaan Hadist,yaitu dalam bentuk penghafalan,penulisan,dan pembukuannya.
Pada masa Nabi Muhammad saw. para sahabat dilarang menulis hadits. Dengan demikian hadits hanya tersimpan dalam hafalan para sahabat. Meskipun demikian keaslian hadits tersebut sejak penerimaan dari Rosulullah saw. sampai pada masa pembukuannya terjamin dengan baik, karena beberapa faktor:
oNabi Muhammad saw. menyampaikannya dengan fasih serta menggunakan bahasa yang baik dan benar;
oNabi Muhammad saw. sering menyesuaikan dialeknya dengan dialek lawan bicaranya;
oCara Nabi Muhammad saw. berbicara perlahan-lahan, tegas, dan jelas, serta sering mengulangnya hingga tiga kali;
oPara sahabat sangat mengidolakan dan sangat hormat kepada Nabi Muhammad saw. sehingga mereka yakin betul apa yang beliau ucapkan mengandung makna. Karena itulah para sahabat mendengarkan sabdanya dengan tekun;
oOrang-orang Arab memiliki kemampuan menghafal yang sangat luar biasa; dan
oPada tingkat tabi'in, periwayatan hadits dan keasliannya terjamin oleh anggapan mereka bahwa apa yang diterima itu semuanya adalah sesuatu yang berharga.
Tujuan dan Urgensi dari ilmu riwayah hadist adalah pemeliharaan terhadap hadist Nabi SAW agar tidak lenyap dan sia-sia,serta terhindar dari kekeliruan dan kesalahan dalam proses periwayatannya atau dalam penulisan dan pembukuannya.Dengan demikian,hadist-hadist Nabi SAW dapat terpelihara kemurniaannya dan dapat diamalkan hukum-hukum dan tuntunan yang terkandung didalamnya.Hal ini sejalan dengan perintah Allah yaitu untuk menjadikan Nabi Muhammad sebagai suri tauladan dalam kehidupan ini (QS. Al-Ahzab ,33;21).
2.2Awal mulanya Ilmu Riwayah Hadist
Pada masa Nabi Muhammad saw. para sahabat dilarang menulis hadits. Dengan demikian hadits hanya tersimpan dalam hafalan para sahabat. Meskipun demikian keaslian hadits tersebut sejak penerimaan dari Rasulullah saw. sampai pada masa pembukuannya terjamin dengan baik, karena beberapa faktor:
1.Nabi Muhammad saw. menyampaikannya dengan fasih serta menggunakan bahasa yang baik dan benar;
2.Nabi Muhammad saw. sering menyesuaikan dialeknya dengan dialek lawan bicaranya;
3.cara Nabi Muhammad saw. berbicara perlahan-lahan, tegas, dan jelas, serta sering mengulangnya hingga tiga kali;
4.para sahabat sangat mengidolakan dan sangat hormat kepada Nabi Muhammad saw. sehingga mereka yakin betul apa yang beliau ucapkan mengandung makna. Karena itulah para sahabat mendengarkan sabdanya dengan tekun;
5.orang-orang Arab memiliki kemampuan menghafal yang sangat luar biasa; dan
6.pada tingkat tabi`in, periwayatan hadits dan keasliannya terjamin oleh anggapan mereka bahwa apa yang diterima itu semuanya adalah sesuatu yang berharga.

Ilmu riwayah hadist sudah ada semenjak Nabi SAW masih hidup,yaitu bersamaan dengan mulainya periwayatan hadist itu sendiri.Para sahabat Nabi menaruh perhatian yang tinggi terhadap hadist Nabi.Mereka rupanya dalam memperoleh hadist-hadist Nabi dengan cara mendatangi majelis Rasul,serta mendengar dan menyimak pesan atau nasha yang disampaikan Beliau.Sedemikian besar perhatian mereka,sehingga kadang-kadang mereka berjanji satu sama lain untuk saling bergantian terus menghadiri majelis Nabi tersebut.Manakala ada diantara mereka yang berhalangan,hal tersebut sama seperti yang dilakukan oleh Umar Ra, yang menceritakan “aku beserta seseorang tetanggaku dari kaum Ansar,yaitu Bani Umayyah bin Zaid secara bergantian menghadiri majelis nabi.Apabila giliranku yang hadir,maka aku akan menceritakan kepadanya apa yang aku dapatkan dari Rasul pada hari itu,dan sebaliknya”.
Para sahabat juga sangat memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan oleh Rasul,baik dalam beribadah maupun dalam aktivitas sosial serta akhlak nabi sehari-hari.Semua mereka terima dan dengar dari Nabi,mereka pahami secara baik,dan mereka pelihara melalui hafalan mereka.Tentang hal ini,Anas bin Malik mengatakan : “Manakala kami berada di majelis Nabi,kami mendengarkan hadist dari beliau,dan apabila kami berkumpul sesama kami,kami akan saling mengingatkan hadist-hadist yang kami miliki sehingga kami menghafalnya”.
Apa yang telah dihafal dan dimiliki oleh para sahabat dari hadist-hadist Nabi Muhammad,selanjutnya mereka sampaikan dengan hati-hati kepada sahabat lain yang kebetulan belum mengetahuinya.Atau kepada para tabi’in.Para tabi’in pun melakukan hal yang sama,yaitu memahami,memelihara,dan menyampaikan hadist-hadist Nabi SAW.
Demikianlah periwayatan hadist dan pemeliharaannya berlangsung hingga usaha penghimpunan hadist secara resmi dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Aziz (memerintah 99 H/717 M – 102 H/720 M).Usaha tersebut diantaranya dipelopori oleh Abu Bakar Muhammad bin Syihab Al-Zuhri (51 H/671 M – 124 H/742M).Al-Zuhri dengan usahanya tersebut dipandang sebagai pelopor Ilmu Riwayah Hadist.Dan didalam sejarah perkembangan hadist,dia dicatat sebagai ulama pertama yang menghimpun hadist Nabi SAW atas perintah Khalifah Umar bin Abd Al-Aziz.
Usaha penghimpunan,penyeleksian,penulisan,dan pembukuan hadist secara besar-besaran terjadi pada abad ke-3 H,yang dilakukan oleh para ulama seperti : Al-Bukhari,Imam Muslim, Imam Abu Daud,Imam Al-Tarmidzi,dan lain-lain.Dengan telah dibuktikan hadist-hadist Nabi oleh para ulama diatas dan buku-buku mereka pada masa selanjutnya telah menjadi rujukan bagi para ulama yang datang pada masa sesudahnya.Maka dengan sendirinya,ilmu riwayah hadist tidak banyak berkembang.Berbeda halnya dengan Ilmu Dirayah hadist yang terus berkembang dengan berbagai cabang ilmu hadist.
2.3Jenis Riwayah Hadist
Riwayah hadist terbagi menjadi 2 bagian,diantaranya yaitu :
a)Riwayah Hadist Bil-Lafdzi
Riwayah Hadist Bil-Lafdzi atau meriwayatkan hadist dengan lafadz adalah meriwayatkan hadist sesuai dengan lafadz yang mereka terima dari Nabi SAW dan mereka hafal benar lafadz dari nabi tersebut.Atau dengan kata lain meriwayatkan dengan lafadz yang masih asli dari nabi SAW.Riwayah hadist dengan lafadz ini sebenarnya tidak ada persoalan,karena sahabat menerima langsung dari nabi baik melalui perkataan maupun perbuatan,dan pada saat itu sahabat langsung menulis atau menghafalnya.
Ciri-ciri hadits yang diriwayatkan secara lafal ini, antara lain:

=> Dalam bentuk muta’ahad (sanadnya memperkuat hadits lain yang sama sanadnya), misalnya hadits tentang adzan dan syahadat
=> Hadits-hadits tentang doa; dan
=> Tentang kalimat yang padat dan memiliki pengertian yang mendalam (jawaami` al-kalimah)
Hal ini dapat kita lihat pada hadist-hadist yang memakai lafadz-lafadz sebagai berikut :
سمعت رسول الله صلّى الله عليه وسلّم (Saya mendengar Rasulullah saw)
Contonya:
عن المغيرة قال: سمعت رسول الله صلّى الله عليه وسلّم يقول:
إِنَّ كَذِباً عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّداً
( فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ (رواه مسلم وغيره
Artinya :
“Dari Al-Mughirah ra, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda;Sesungguhnya dusta atas namaku itu tidak seperti dusta atas nama orang lain, dan barang siapa dusta atas namaku dengan sengaja,maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di neraka.”(HR.Muslim dan lain-lainnya).
حدّثنى رسول الله صلّى الله عليه وسلّم (Menceritakan kepadaku Rasulullah saw)
Contohnya:
حَدَّتَنِى مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِبْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ اَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya :
“Telah bercerita kepadaku Malik dari Ibnu Syihab dari Humaidi bin Abdur Rahman dari Abi Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda : Siapa yang beramadhan dengan iman dan mengharap pahala,dihapus dosa-dosanya yang telah lalu”.
رأيت رسول الله صلّى الله عليه وسلّم (Saya melihat Rasulullah saw berbuat)
Contohnya:
عن عبّاس بن ربيع قال: رأيت عمربن الخطّاب رضي الله عنه يقبّل الحجر “يعنى الأسود” ويقول
إِنِّى لاَءَ عْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَتَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ وَلَوْلاَ أَنِّى
رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
(رواه البخارى ومسلم)
Artinya:
“Dari Abbas bin Rabi’ ra,ia berkata : Aku melihat Umar bin Khatab ra mencium Hajar aswad dan dia berkata : Sesungguhnya benar-benar aku tahu bahwa engkau itu sebuah batu yang tidak memberi mudharat dan tidak(pula) memberi manfaat.Seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu,aku (pun) tak akan menciummu.”(HR.Bukhari dan Muslim).
أخبرنى رسول الله صلّى الله عليه وسلّم  (Mengkhabarkan kepadaku Rasulullah saw)

Hadist-hadist yang menggunakan lafadz-lafadz diatas memberikan indikasi bahwa para sahabat langsung bertemu Nabi SAW dalam meriwayatkan hadist.Oleh karena itu,para ulama menetapkan hadist yang diterima dengan cara itu menjadi hujjah dengan tidak ada khilaf.

b)Riwayah Hadist Bil-Ma’na
Riwayah Hadist Bil-Ma’na atau meriwayatkan hadist dengan makna adalah meriwayatkan hadist dengan maknanya saja sedangkan redaksinya disusun sendiri oleh orang yang meriwayatkan.Atau dengan kata lain apa yang diucapkan oleh Rasulullah hanya dipahami maksudnya saja,lalu disampaikan oleh para sahabat dengan lafadz atau susunan redaksi mereka sendiri.Hal ini dikarenakan para sahabat tidak sama daya ingatannya,ada yang kuat dan ada pula yang lemah.Disamping itu kemungkinan masanya sudah lama,sehingga yang masih ingat hanya maksudnya sementara apa yang diucapkan Nabi sudah tidak diingatnya lagi.
Menukil atau meriwayatkan hadist secara makna ini hanya diperbolehkan ketika hadist-hadist belum termodifikasi.Adapun hadist-hadist yang sudah terhimpun dan dibukukan dalam kitab-kitab tertentu(seperti sekarang) tidak diperbolehkan merubahnya dengan lafadz yang lain meskipun maknanya tetap.
Syarat-syarat yang ditetapkan dalam meriwayatkan hadits secara makna ini cukup ketat, yaitu:

=> periwayat haruslah seorang muslim, baligh, adil, dan dhobit (cermat dan kuat);
=> periwayat hadits tersebut haruslah benar-benar memahami isi dan kandungan hadits yang dimaksud;
=> periwayat hadits haruslah memahami secara luas perbedaan-perbedaan lafal sinonim dalam bahasa Arab;
=> meskipun si penglafal lupa lafal atau redaksi hadits yang disampaikan Nabi Muhammad saw., namun harus ingat maknanya secara tepat.

Adapun contoh hadist dengan makna adalah sebagai berikut :
جَائَتْ اِمْرَأَةٌ اِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاَرَادَ اَنْ تَهِبَ نَفْسَهَالَهُ فَتَقَدَّمَ رَجُلٌ فَقاَلَ:
يَارَسُوْلَ اللهِ اَنْكِحْنِيْهَا وَلَمْ يَكُنْ مَعَهُ مِنَ الْمَهْرِ غَيْرَ بَعْضِ الْقُرْآنِ
فَقاَلَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنْكَحْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ
وفىرواية , قَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ
وفىرواية , زَوَّجْتُكَهَا عَلَى مَعَكَ مِنَ الْقُرآنِ
وفىرواية , مَلَكْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنَ الْقُرآنِ (الحديث)
Artinya :
“Ada seorang wanita datang menghadap Nabi saw, yang bermaksud menyerahkan dirinya (untuk dikawin) kepada beliau. Tiba-tiba ada seorang laki-laki berkata: Ya Rasulullah, nikahkanlah wanita tersebut kepadaku, sedangkan laki-laki tersebut tidak memiliki sesuatu untuk dijadikan sebagai maharnya selain dia hafal sebagian ayat-ayat Al-Qur’an. Maka Nabi saw berkata kepada laki-laki tersebut: Aku nikahkan engkau kepada wanita tersebut dengan mahar (mas kawin) berupa mengajarkan ayat Al-Qur’an.Dalam satu riwayat disebutkan:Aku kawinkan engkau kepada wanita tersebut dengan mahar berupa (mengajarkan) ayat-ayat Al-Qur’an.Dalam riwayat lain disebutkan:Aku kawinkan engkau kepada wanita tersebut atas dasar mahar berupa (mengajarkan) ayat-ayat Al-Qur’an.Dan dalam riwayat lain disebutkan:Aku jadikan wanita tersebut milik engkau dengan mahar berupa (mengajarkan) ayat-ayat Al-Qur’an”.(Al-Hadits).

Hukum Meriwayatkan Hadist Ma’nawi

Para ulama berselisih pendapat tentang kebolehan meriwayatkan hadits dengan cara ma’nawi. Sebagian ahli hadits, ahli ushul dan ahli fiqh mengharuskan para perawi meriwayatkan hadits dengan lafadznya yang didengar, tidak boleh ia meriwayatkan hadits dengan maknanya sekali-kali.
Jumhur ulama lain berpendapat membolehkan seseorang mendatangkan atau meriwayatkan hadits dengan pengertiannya tidak dengan lafadz aslinya. Kalau ia seorang yang penuh ilmunya tentang Bahasa Arab dan mengetahui sistem penyampaiannya, berpandangan luas tentang fiqh dan kemungkinannya lafadz-lafadz yang mempunyai beberapa pengertian sehingga akan terjaga dari pemahaman yang berlainan dan hilangnya kandungan hukum dari hadits tersebut, kalau tidak demikian maka tidak diperbolehkan meriwayatkan hadits hanya dengan maknanya saja dan wajib menyampaikan dengan lafadz yang ia dengan dari gurunya.
Imam Syafi’i menerangkan tentang sifat-sifat perawi:
“Hendaknya orang yang menyampaikan hadits itu seorang yang kepercayaan tentang agamanya lagi terkenal bersifat benar dalam pembicaraannya, memahami apa yang diriwayatkan, mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafadz dan hendaklah dia dari orang yang menyampaikan hadits persis sebagaimana yang didengar, bukan diriwayatkan dengan makna., karena apabila diriwayatkan dengan makna sedang dia seorang yang tidak mengetahui hal-hal yang memalingkan makna niscaya tidaklah dapat kita mengetahui boleh jadi ia memalingkan yang halal kepada yang haram. Tetapi apabila ia menyampaikan hadits secara yang didengarnya, tidak lagi kita khawatir bahwa dia memalingkan hadits kepada yang bukan maknanya. Dan hendaklah ia benar-benar memelihara kitabnya jika dia meriwayatan dengan hadits itu dari kitabnya.”
Dari penjelasan ini nyatalah bahwa orang yang mengetahui hal-hal yang memalingkan makna dari lafadz, boleh meriwayatkan dengan makna apabila dia tidak ingat lagi lafadz yang asli, karena dia telah menerima hadits, lafadz dan maknanya.
Imam Mawardi mewajibkan menyampaikan hadist dengan maknanya kalau lafadznya terlupa, karena kalau hadits itu tidak disampaikan walaupun dengan maknanya, termasuk yang menyembunyikan hadist. Al-Mawardi berkata: “Jika seseorang tidak lupa kepada lafadz hadits niscaya tidak boleh dia menyebutkan hadits itu dengan bukan lafadznya, karena di dalam ucapan-ucapan nabi sendiri terdapat fashahah yang tidak terdapat pada perawinya.”
Ada pendapat lain yang membolehkan meriwayatkan hadits dengan maknanya saja dengan syarat bahwa hadits itu bukan yang diibadati dan ini hanya terjadi pada periode sahabat dan tabi’in, dan dibolehkan hanya bagi ahli-ahli ilmu saja. Menjaga kehati-hatian dalam meriwayatkan hafits yang hanya dengan maknanya itu setelah meriwayatkan hadits harus memakai kata-kata كما قال dan شبهه serta yang serupa dengannya.
Secara lebih terperinci dapat dikatakan bahwa meriwayatkan hadits dengan maknanya itu sebagai berikut:
1.Tidak diperbolehkan, pendapat segolongan ahli hadits, ahli fiqh dan ushuliyyin.
2.Diperbolehkan, dengan syarat yang diriwayatkan itu bukan hadits marfu’.
3.Diperbolehkan, baik hadits itu marfu’ atau bukan asal diyakini bahwa hadits itu tidak menyalahi lafadz yang didengar, dalam arti pengertian dan maksud hadits itu dapat mencakup dan tidak menyalahi.
4.Diperbolehkan, bagi para perawi yang tidak ingat lagi lafadz asli yang ia dengar, kalau masih ingat maka tidak diperbolehkan menggantinya.
5.Ada pendapat yang mengatakan bahwa hadits itu yang terpenting adalah isi, maksud kandungan dan pengertiannya, masalah lafadz tidak jadi persoalan. Jadi diperbolehkan mengganti lafadz dengan murodifnya.
6.Jika hadits itu tidak mengenai masalah ibadah atau yang diibadati, umpamanya hadits mengenai ilmu dan sebagainya, maka diperbolehkan dengan catatan:
a.Hanya pada periode sahabat
b.Bukan hadits yang sudah didewankan atau di bukukan
c.Tidak pada lafadz yang diibadati, umpamanya tentang lafadz tasyahud dan qunut.

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa perbedaan antara hadits lafdzi dengan hadits ma’na adalah sedikit sekali, terletak hanya pada periwayatan lain yang menjadi sumber sandarannya. Kalau diumpamakan hadits itu sebuah kelompok, maka kumpulan kelompok yang terdiri dari beberapa person (orang) adalah hadits ma’nawi, sedang orang perseorangnya dinamakan dengan hadits lafdzi.

2.4Macam-macam Ilmu Riwayah Hadist
Ilmu riwayah hadist terbagi menjadi 5 macam Hadist yaitu :
Hadist Qauli
Yang dimaksud dengan hadist Qauli adalah segala yang disandarkan kepada Nabi SAW yang berupa perkataan atau ucapan yang memuat berbagai maksud syara’,peristiwa,dan keadaan,baik yang berkaitan dengan aqidah,syari’ah,akhlak,maupun yang lainnya.Contoh hadist Qauli ialah tentang do’a Rasul SAW yang ditujukan kepada yang mendengar,menghafal,dan menyampaikan ilmu.Hadist tersebut berbunyi :
نَضَّرَ اللهُ أَمْرًا سَمِعَ مِنَّا حَدِيْثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ فَإِنَّهُ رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيْهٍ وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهً إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلاَثُ خِصَالٍ لَا يَغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ أَبَدًا إِخْلاَصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَصَحَةُ وُلاَةِ اْلأَمْرِ وَلُزُوْمُ الْجَمَاعَةِ فَإِنَّ دَعْوَتَهُمْ تُحِيْطُ مِنْ وَرَائِهِمْ (رواه احمد)
Artinya :
“ Semoga Allah memberikan kebaikan kepada orang yang mendengarkan perkataan dariku kemudian menghafal dan menyampaikannya kepada orang lain,karena banyak orang berbicara mengenai fiqh padahal ia bukan ahlinya.Ada tiga sifat yang karenanya tidak akan timbul rasa dengki dihati seorang muslim,yaitu ikhlas beramal semata-mata kepada Allah SWT,menasehati,taat dan patuh kepada pihak penguasa,dan setia terhadap jama’ah.Karena sesungguhnya do’a mereka akan memberikan motivasi(dan menjaganya) dari belakang”.(HR.Ahmad).
Contoh lain tentang bacaan surah Al-Fatihah dalam sholat yang berbunyi:
لَا صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يقْرَأْ بِفَاتِحَةِ اْلكِتَابِ (رواه مسلم)
Artinya :
“Tidak sah sholat seseorang yang tidak membaca Fatihah Al-Kitab”.(HR.Muslim).
Hadist Fi’il
Dimaksud dengan hadist fi’il adalah segala yang disandarkan kepada Nabi SAW berupa perbuatannya yang sampai kepada kita.Seperti hadist tentang sholat dan haji.Contoh hadist fi’il tentang sholat adalah sabda Nabi SAW yang berbunyi :
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ (رواه البخار)
Artinya :
“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat”.(HR.Bukhari).
Contoh lainnya hadist yang berbunyi :
كَانَ النَّبِيُّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ مَا تَوَجَّهَتْ بِهِ (رواه الترمذى)
Artinya :
“Nabi SAW sholat diatas tunggangannya,kemana saja tunggangannya itu menghadap”.(HR.Al-Tirmidzi).
Hadist Taqriri
Yang dimaksud dengan hadist taqriri adalah segala hadist yang berupa ketetapan nabi SAW terhadap apa yang datang dari sahabatnya.Nabi SAW membiarkan suatu perbuatan yang dilakukan oleh para sahabat setelah memenuhi beberapa syarat baik mengenai pelakunya maupun perbuatannya.
Diantara contoh hadist taqriri ialah sikap rasul SAW membiarkan para sahabat melaksanakan perintahnya,sesuai dengan penafsiran masing-masing sahabat terhadap sabdanya,yang berbunyi sebagai berikut :
لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ اْلعَصْرَ إِلَّا فِيْ بَنِيْ قُرَيْظَةَ (رواه البخارى)
Artinya :
“Janganlah seorang pun sholat A’sar selain di Bani Quraizah”.
Sebagai sahabat memahami larangan tersebut berdasarkan pada hakikatnya perintah tersebut,sehingga mereka tidak melaksanakan sholat Asar pada waktunya.Sedangkan golongan sahabat lainnya memahami perintah tersebut dengan perlunya segera menuju Bani Quraizah dan jangan santai dalam peperangan,sehingga bisa sholat tepat pada waktunya.Sikap para sahabat ini dibiarkan oleh para Nabi SAW tanpa ada yang disalahkan atau diingkarinya.
Hadist Hammi
Yang dimaksud dengan hadist Hammi adalah hadist yang berupa hasrat Nabi SAW yang belum terealisasikan seperti halnya hasrat berpuasa tanggal 9 Asyura.Dalam riwayat Ibnu Abbas disebutkan sebagai berikut :
حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ (رواه مسلم)
Artinya :
“Ketika Nabi SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa mereka berkata : Ya Nabi! Hari ini adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.Nabi SAW bersabda: Tahun yang akan datang insyaallah aku akan berpuasa pada hari yang kesembilan.”(HR.Muslim).
Nabi SAW belum sempat merealisasikan hasratnya ini karena wafat sebelum sampai bulan Asyura.Menurut Imam syafi’i dan para pengikutnya,bahwa menjalankan hadist ini disunahkan sebagaimana menjalankan sunnah-sunnah yang lainnya.
Hadist Ahwali
Yang dimaksud dengan hadisy ahwali adalah hadist yang menyebutkan hal ihwal Nabi Muhammad SAW yang menyangkut keadaan fisik,sifat-sifat,dan kepribadiannya.Adapun tentang keadaan fisik Nabi SAW dalam beberapa hadist disebutkan bahwa beliau tidak terlalu tinggi dan tidak pula pendek,sebagaimana dikatakan Al-Bara’i dalam sebuah hadist berikut :
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَجْهًا وَأَحْسَنَهُ خَلْقًا لَيْسَ بِاالطَّوِيْلِ الْبَائِنِ وَلاَ بِالْقَصِيْرِ (رواه البخارى)
Artinya :
“Rasulullah SAW adalah manusia yang memiliki sebaik-baiknya rupa dan tubuh.Keadaan fisiknya tidak tinggi dan tidak pendek”.
Dalam hadist lain disebutkan juga :
قَالَ أَنَسٌ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَا مَسَسْتُ حَرِيْرًا وَلَا دِيْبَاجًا أَلْيَنَ مِنْ كَفِّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا شَمِمْتُ رِيْحًا قَطُّ أَوْ عُرْفًا قَطُّ أَطْيَبَ مِنْ رِيْحٍ أَوْ عَرْفِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَمَا قَالَ لِيْ قَطُّ أُفٍّ
Artinya :
“Berkata Anas bin Malik, “Aku belum pernah memgang sutra murni dan sutra berwarna sehalus telapak tangan Rasul SAW juga belum pernah mencium wewangian seharum Rasul SAW.Aku mengabdi kepada beliau selama sepuluh tahun.Beliau tidak pernah berkata yang menyakitkan hatiku”.(HR.Bukhari dan Muslim).
Mengenai sifat Rasulullah SAW disebutkan dalam hadist Ibnu Umar tersebut :
لَمْ يَكُنْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَكَانَ يَقُوْلُ إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكثمْ أَخْلَاقًا
Artinya :
“Rasulullah SAW bukanlah orang yang melampaui batas dan suka berkata kotor.Bahkan beliau bersabda,’Sebaik-baiknya kamu adalah sebaik akhlakmu “.(HR.Bukhari).
2.5Perbedaan Ilmu Riwayah Hadist dan Dirayah Hadist

RINGKASAN PERBEDAAN ANTARA
ILMU HADITS RIWAYAH DAN ILMU HADITS DIRAYAH

Tinjauan Ilmu Hadits Riwayah Ilmu Hadits Dirayah
Objek pembahasan Segala perkataan, perbuatan dan persetujuan Nabi saw. Hakikat, sifat-sifat dan kaidah-kaidah dalam periwayatan
Pendiri Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (w. 124 H) Abu Muhammad Al-Hasan bin Abdurrahman bin Khalad Ar-Ramahurmuzi (w. 360 H)
Tujuan Memelihara syari’ah Islam dan otentisitas Sunnah Meneliti hadits berdasarkan kaidah-kaidah atau persyaratan dalam periwayatan.
Faedah Menjauhi kesalahan dalam periwayatan Mengetahui periwayatan yang diterima (maqbul) dan yang tertolak (mardud)

Sekalipun berbeda antara Ilmu Hadits Riwayah dan Ilmu Hadits Dirayah, namun keduanya tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain.Hubungan antara ilmu hadits riwayah dan dirayah atau antara hadits dan ilmu hadits merupakan satu sistem yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya (syay’an nutalaziman). Seperti halnya hubungan antara ilmu tafsir dengan tafsir, ushul fikih dan sebagainya.lahirnya Ilmu Hadits Riwayah tidak lepas dari peran ilmu hadits Dirayah baik secara implisit maupun eksplisit. Di antara perannya adalah meriwayatkan, menghimpun, menelusuri, menfilter dan mengklasifikasikan kepada berbagai tingkatan dan aneka macam, mana hadits dan mana yang bukan hadits, mana sabda Nabi dan mana perkataan atau fatwa sahabat, mana hadits yang diterima (maqbul) dan mana hadits yang tertolak (mardud). Sedang Ilmu Hadits Riwayah sebagai produknya yang telah matang dari proses penelusuran tersebut, atau dalam kalimat lain Ilmu Hadits Dirayah sebagai input, sedangkan Ilmu Hadits Riwayah bagaikan
output-nya. Oleh karena itu, tidak ada faedahnya Ilmu Hadits Riwayah saja tanpa disertai Ilmu Hadits Dirayah.

BAB III
PENUTUP
3.1Kesimpulan
Ilmu hadits Riwayah ialah perkataan, perbuatan, ketidak ingkaran dan sifat yang dinukil dari nabi muhammad saw.
Ilmu hadits riwayah ada 4 macam:
1.Hadits Qauli, ialah perkataan nabi saw, seperti:
قال رسول الله صلي الله عليه وسلم انما الاعمال بالنيات
Nabi bersabda: Sesungguhnya amal amal perbuatan tergantung pada niatnya. Biasanya menggunakan قال  atau يقول
2.Hadits fi’li ialah perbuatan nabi saw seperti:
كان النبي صلي الله عليه وسلم يصلى قبل الظهر اربعا وبعدها اربعا
Ada nabi saw bersembahyang sebelum dzuhur 4 rokaat dan sesudahnya 4 rokaat biasanya memakai كان
3.Hadits taqriri ialah ketidak ingkaran nabi saw pada perkataan atau perbuatan sahabat, seperti hadits:
رايت رسول الله صلي الله عليه وسلم يسترني وانا انظر الى الحبشة يلعبون في المسجد
Saya melihat rasulullah saw menutupi saya dan saya melihat pada orang orang habasyah yang sedang bermain dimasjid (nabi saw tidak melarang dan tidak menyuruh)
4.Hadits shifati (Ahwali) ialah sifat sifat nabi saw seperti:
كان اصبر الناس على اقذار الناس
Ada nabi saw paling sabarnya manusia dari gangguan manusia.
5.Hadits Hammi adalah hadits yang berupa hasrat Nabi SAW yang belum terealisasikan, seperti halnya hasrat berpuasa tanggal 9 Asyura.


DAFTAR PUSTAKA

Ash-Shalih, Subhi. Membahas Ilmu-Ilmu Hadis. Pustaka Firdaus. Jakarta: 2000//diakses pada tanggal 26 September 2014 pukul 15.00 WIB
Ash-Shalih, Subhi. Membahas Ilmu-Ilmu Hadis. Pustaka Firdaus. Jakarta: 2002//diakses pada tanggal 26 September 2014 pukul 15.05 WIB
Mudasir H. Ilmu Hadis. CV Pustaka Setia. Bandung 1999//diakses pada tanggal 26 September 2014 pukul 15.10 WIB
Suparta, Munzir. Ilmu Hadis. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta 2002//diakses pada tanggal 26 September 2014 pukul 15.15 WIB
Yuslem, Nawir. Ulumul Hadis. Mutiara Sumber Widya. Jakarta: 2001//diakses pada tanggal 26 September 2014 pukul 15.20 WIB
http://contohdakwahislam.blogspot.com/2013/06/ilmu-hadits-riwayah-dan-dirayah.html//diakses pada tanggal 26 September 2014 pukul 15.25 WIB

No comments:

Post a Comment