Saturday, October 7, 2017

MAKALAH KRITERIA HADITS DHAIF


MAKALAH KRITERIA HADITS DHAIF
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Pada dasarnya manusia hidup telah diberikan pedoman oleh Allah SWT. Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia seakan lupa bahwa hidup di dunia hanya sementara dan tak lagi berpegang pada pedoman yang telah diturunkan; Al-Qur’an, Hadits dan As-Sunnah. Padahal jika manusia mengikuti dengan baik dan benar pedoman-pedoman tersebut, Allah telah menjanjikan hal indah nantinya di kehidupan kekal kelak di akhirat. Untuk itulah makalah ini dibuat untuk mengingatkan kembali para manusia yang lupa pada pedoman super akurat yang telah diatur sedemikian rupa agar manusia dapat menghadapi hidup dengan jalan yang benar. Juga untuk mengimbangi kemajuan teknologi dengan perkembangan iman dan taqwa seorang manusia kepada Tuhannya.

Rumusan Masalah
A.Pengertian hadits dhaif.
B.Kriteria-kriteria hadist dhaif.
C.Macam-macam hadist dhaif

1.3Tujuan
Menambah pengetahuan agama Islam tentang apa itu hadist terutama Hadist Dha’if dan kriterianya serta mengaplikasikannya dalam kehidupan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1Pengertian Hadits

Hadits adalah segala perkataan (sabda), perbuatan dan ketetapan dan persetujuan dari Nabi Muhammad SAW yang dijadikan ketetapan ataupun hukum dalam agama Islam. Hadits dijadikan sumber hukum dalam agama Islam selain Al-Qur'an, Ijma dan Qiyas, dimana dalam hal ini, kedudukan hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur'an.
Para ahli hadits membagi hadits menjadi banyak bagian dengan istilah yang berbeda-beda. Namun, semua itu tujuannya pada pokoknya kembali kepada tiga objek pembahasan, yaitu dari segi matan, sanad, serta matan dan sanad-sanad secara bersama-sama. Dan kebanyakan mereka mengklasifikasikan hadits secara keseluruhan menjadi tiga kategori yaitu shahih, hasan, dan dhaif.
Ada banyak ulama periwayat hadits, namun yang sering dijadikan referensi hadits-haditsnya ada tujuh ulama, yakni Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Turmudzi, Imam Ahmad, Imam Nasa'i, dan Imam Ibnu Majah.
2.2Pengertian Hadits Dhaif
Kata dha’if menurut bahasa berasal dari kata dhuifun yang berarti lemah lawan dari kata qawiy yang berarti kuat. Sedangkan dhaif berarti hadits yang tidak memenuhi hadits hasan.  Hadits dhaif disebut juga hadits mardud (ditolak). Contoh hadits dhaif ialah hadits yang berbunyi:
اِنَ النَبِيَ صلى الله علىه  وسلم تَوَ ضَأَ وَمَسَحَ عَلىَ الْجَوْرَ بَيْنِ

Artinya: “Bahwasanya Nabi SAW wudhu dan beliau mengudap kedua kaos kakinya”.
Hadits tersebut dikatakan dhaif karena diriwayatkan dari Abu Qais al-Audi. Seorang perawi yang masih dipersoalkan.
Dengan kaidah ini, sesungguhnya sesuatu hadits itu di anggap dhai’if, selama belum dapat dibuktikan keshahian atau kehasanannya. Sebab, yang diharuskan untuk memenuhi syarat-syarat tertentu adalah hadits shahih dan hadits hasan, serta bukan hadits dha’if. Tetapi, ulama hadits dalam membicarakan kualitas suatu hadits. Telah berusaha pula untuk membuktikan/menjelaskan letak kedha’ifannya, bila hadits yang bersangkutan dinyatakan dha’if,sebab dengan demikian akan menjadi jelas berat ringannya kekurangan atau cacat yang dimiliki oleh hadist itu. Atas dasar penelitian yang demikian ini pila, maka dimungkinkan suatu hadist yang kualitasnya dha’if, lalu dapat meningkat kepada kualitas hasan li-ghairihi.
Dalam beberapa hal, ulama hadist tidak tidak sepakat dalam menilai suatu hadist. Adakalanya, ulama tertentu menilainya sebagai hadist hasan atau shahih, tetapi ulama lainnya, menilainya sebagi hadist dha’if. Keadaan ini terjadi, antara lain disebabkan oleh perbedaan pengetahuan ulama tersebut terhadap keadaan perawi hadist yang dinilainya ataupun karena perbedaan tolok ukur yang digunakan dalam menilai suatu hadist.
2.3. Kriteria Hadits Dhaif
Para ulama memberikan batasan bagi hadits dhaif yaitu:
اَلْحَدِيْثُ الضَعِيْفِ هُوَ الْحَدِيْثُ الَذِىْ لَمْ يُجْمَعْ صِفَا تُ الْحَدِ يْثِ الصَحِيْحِ وَلاَ صَفَا تِ الْحَدِ يْثِ
Artinya: “Hadits dhaif adalah hadits yang tidak menghimpun sifat-sifat shahih, dan juga tidak menghimpun sifat-sifat hadits hasan”.
Kriteria hadits dhaif yaitu hadits yang kehilangan salah satu syaratnya sebagai hadits shahih dan hasan. Dengan demikian, hadits dhaif itu bukan tidak memenuhi syarat-syarat hadits shahih, juga tidak memenuhi persyaratan hadits-hadits hasan. Para hadits dhaif terdapat hal-hal yang menyebabkan lebih besarnya dugaan untuk menetapkan hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah SAW.
Kehati-hatian dari para ahli hadits dalam menerima hadits sehingga mereka menjadikan tidak adanya petunjuk keaslian hadits itu sebagai alasan yang cukup untuk menolak hadits dan menghukuminya sebagai hadits dhaif. Padahal tidak adanya petunjuk atas keaslian hadits itu bukan suatu bukti yang pasti atas adanya kesalahan atau kedustaan dalam periwayatan hadits, seperti kedhaifan hadits yang disebabkan rendahnya daya hafal rawinya atau kesalahan yang dilakukan dalam meriwayatkan suatu hadits. Padahal sebetulnya ia jujur dan dapat dipercaya. Hal ini tidak memastikan bahwa rawi itu salah pula dalam meriwayatkan hadits yang dimaksud, bahkan mungkin sekali ia benar. Akan tetapi, karena ada kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan dalam periwayatan hadits yang dimaksud, maka mereka menetapkan untuk menolaknya.
Demikian pula kedhaifan suatu hadits karena tidak bersambungnya sanad. Hadits yang demikian dihukumi dhaif karena identitas rawi yang tidak tercantum itu tidak diketahui sehingga boleh jadi ia adalah rawi yang dhaif. Seandainya ia rawi yang dhaif, maka boleh jadi ia adalah rawi yang dhaif. Seandainya ia rawi yang dhaif, maka boleh jadi ia melakukan kesalahan dalam meriwayatkannya. Oleh karena itu, para muhadditsin menjadikan kemungkinan yang timbul dari suatu kemungkinan itu sebagai suatu pertimbangan dan menganggapnya sebagai penghalang dapat diterimanya suatu hadits. Hal ini merupakan puncak kehati-hatian yang kritis dan ilmiah.
2.4 Pembagian Hadits Dha’if
2.4.1. Hadits Dha’if Sebab Keterputusan Dan Macam-Macamnya
Secara garis besar yang menyebabkan suatu hadits digolongkan menjadi hadits dhaif dikarenakan dua hal, yaitu gugurnya rawi dalam sanadnya dan ada cacat pada rawi atau matan.
Hadits dhaif karena gugurnya rawi adalah tidak adanya satu, dua atau beberapa rawi, yang seharusnya ada dalam sanad, baik para pemulaan sanad, pertengahan ataupun akhirnya.
Keputusan sanad ada dua bagian, yaitu:
1.Keterputusan secara zhahir dan dapat diketahui oleh ulama hadits karena factor           perawi yang tak pernah bertemu dengan gurunya atau tidak hidup di zamannya.
Dan dibagi empat macam, yaitu:
a.Hadits Mu’allaq
Hadits mu’allaq, ialah : “hadits perawinya, baik seseorang, baik dua orang, baik semuanya, pada awal sanad, yaitu guru dari seseorang imam hadits.” Mengugurkan itu dinamakan “ta’liq”
Didalam Shahih Al Bukhary banyak terdapat hadits mu’allaq tetapi diberi hukum muttashil, walaupun derajatnya dipandang tidak setingkat dengan yang muttashil sendiri, kecuali jika ada disana akan pada tempat yang lain.
Contoh; Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam kitabnya  ash-Shahih, Kitab al-Iman, Bab: Husnu Islami al-Mar’i (1/17), ia mengatakan,

قَالَ مَالِكٌ: أَخْبَرَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ أَنَّ عَطَاءَ بْنَ يَسَارٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلاَمُهُ يُكَفِّرُ اللَّهُ عَنْهُ كُلَّ سَيِّئَةٍ كَانَ زَلَفَهَا ، وَكَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِئَةِ ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلاَّ أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَنْهَا.
“Telah berkata Malik, telah memberitakan kepada kami Zaid bin Aslam, bahwa ‘Atha’ bin Yasar memberitahu kepadanya, bahwa Abu Sa’id al-Khudri memberitahu kepadanya, bahwasannya ia mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda; Apabila seseorang  masuk Islam, dengan keislaman yang bagus maka Allah akan menghapuskan semua kejahatannya yang telah lalu. Setelah itu balasan terhadap suatu kebaikan sebanyak sepuluh kali sampai 700 kali lipat dari kebaikan itu, dan balasan kejahatan sebayak kejahatan itu sendiri, kecuali pelanggaran tehadap Allah.”
 Al-Bukhari tidak menyebutkan nama gurunya, padahal ia meriwayatkan hadis dari Imam Malik melalui perantara seorang ar-râwiy (periwayat).
b.Hadits Munqathi’
Hadits mungathi’ ialah : “Hadits yang gugur seseorang, atau orang dengan tiada berturut-turut dipertengahan sanad.”
Mengetahui ada tidaknya ingitha’ atau gugur seseorang perawi, adalah dengan mengetahui ada tidaknya bertemu antara seorang perawi, dengan perawi lainnya. Hal ini adakalanya semuanya bertemu atau tidak pernah bertemu.
Contoh hadits yang dari sanadnya menggugurkan perawinya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abdurrazaq dari Ats-Tsauri, dari Abu Ishaq, dari Zain bin Yutsayi’, dari Hadzaifah yang meriwayatkan secara Marfu’: jika kalian serahkan urusan kekhalifahan lagi terpercaya…” Dari sanad hadits ini antara Ats-Tsauri dan Abu Ishaq ada perawi yang digugurkan, yaitu Syarik. Sebab Ats-Sauri tidak mendengar hadits ini secara langsung dari Abu Ishaq, melainkan lewat Syarik. Dan Syarik inilah yang mendengar hadits dari Abu Ishaq.

c.Hadits Mu’dhal
Hadits mu’dhal, ialah : “Hadits yang gugur dua orang perawi berturut-turut dipertengahan sanad.”  Hadits ini lebih ruwet dan tidak jelas jika dibandingkan dengan hadits Mumqathi’, Dari sinilah datangnya penaman mu’da (sulit dipahami, membingungkan).
Hadits Mu’dlal dianggap sebagai bagian dari hadits Mungathi’Namun dengan suatu aspek khusus. Karena setiap hadits mu’dlal bersifat munqathi’, tetapi tidak setiap munqathi adalah mu’dlal.Tidak ada kesinambungan dalam sanadnya merupakan sebab kedla’ifannya, seperti halnya dalam munqathi’ dan mursal. Hadits mursal dari tabi’ut tabi’in ternasuk mu’dlal. Contohnya adalah hadits yang diriwsystkan oleh Al-A’masi dari Asy-Sya’bi yang berkata, “ditanyakan kepada seseorang pada hari kiamat : Apakah engkau berbuat demikian dan demikian? Orang itu menjawab’tidak!.’ Maka diberanguslah mulutnya”.
2.Keterputusan yang tidak jelas dan tersembunyi. Ini tidak dapat diketahui  kecuali para ulama yang ahli dan mendalami jalan hadits dan illat-illat sanadnya, Ada dua macam untuk jenis ini, yaitu :
a.Hadits Mudallas
Hadits mudallas, ialah “hadits yang tiada disebut dalam sanad atau sengaja digugurkan oleh perawi nama gurunya dengan cara yang memberi waham, bahwa dia mendengar hadits itu dari orang yang di sebut namanya itu”.  Perbuatan itu dinamai”tad-lis”.
Si pembuatnya, dinamai “Mudallis”. Riwayat mudalilis itu tidak diterima, terkecuali hadits-haditsnya yang memang didengar sendiri dari gurunya.
Mudallas terbagi dua, yaitu tadlis isnad dan tadlis suyukh.
1.Ttadlis isnad adalah hadits yang disampaikan oleh seseorang perawi dari   orang yang sesama dengannya dan ia bertemu sendiri dengan orang itu, meskipun ia tidak mendengar langsung darinya. Atau dari orang yang sama dengannya, tetapi tidak pernah bertemu, menciptakan ganbaran bahwa ia mendengar langsung dari orang ter sebut.
2. Adlis suyukh memberi sifat kepada perawinya dengan sifat-sifat yang lebih agung dari pada kenyataan, atau memberinya nama dengan kunyah (nama julukan).
b.Hadits Mursal
Hadits mursal, baik menurut ta’rif fuqaha, maupun menurut ta’rif ahli hadits digolongkan kedalam hadits yang tiada bersambung sanadnya.
Definisinya yang terkenal adalah hadits yang perawinya adalah sahabat yang digugurkan (tidak di sebut namanya), seperti perkataan Nafi’ “Rasullallah s.a.w. bersabda demikian, atau berbuat demikian, “ dan serupa. Dengan demikian, hadits yang mutlak marfu’ tabi’in besar atau kecil, dan disandarkan lansung kepada Nabi SAW.
2.4.2 Dha’if Yang Disebabkan Cacat Selain Keterputusan Sanad Dan Macam-Macamnya
a. Hadits Matruk
Hadits matruk ialah “Hadits yang diriwayatkan oleh hanya seorang perawi yang bertuduh dusta, baik dalam soal hadits ataupun lainya, ataupun tertuduh fasiq, atau banyak lalai atau sangka.
Contoh hadis matrûk:
أخبرنا القاضى أبو القاسم نا أبو علي نا عبدالله بن محمد ذكر عبدالرحمن بن صالح الأزدى نا عمرو بن هاشم الجنى عن جوبير عن الضحاك عن ابن عباس عن النبي صلى الله عليه و سلم قال عَلَيْكُمْ بِاصْطَنَاعِ المَعْرُوفِ فَإِنَّهُ يَمْنَعُ مَصَارِعَ السُّوءِ وَعَلَيْكُمْ بِصَدَقَةِ السِّرِّ فَإِنَّهَا تُطْفِىءُ غَضَبَ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ
أخرجه ابن أبى الدنيا فى قضاء الحوائج (ص ٢٥ ، رقم ٦)
“Hendaklah kalian berbuat ma’ruf, karena ia dapat menolak kematian yang buruk, dan hendaklah kamu bersedekah secara tersembunyi, karena sedekah tersembunyi akan memadamkan murka Allah SWT”.
Hadis tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dari Ibnu Abbas. Di dalam sanad  ini terdapat rawi yang bernama Juwaibir bin Sa’id al-Azdiy. An-Nasa’i, ad-Daruquthni, dan lain-lain mengatakan bahwa haditsnya ditinggalkan (matrûk). Ibnu Ma’in berkata, “لاَ بَأْسَ بِهِ (Ia tidak ada apa-apanya)”, menurut Ibnu Ma’in ungkapan (tidak ada apa-apanya), ini berarti ia “الْمُتَّهَمُ بِالْكَذِبِ (tertuduh berdusta)”.

b.Hadits Munkar
Hadits munkar ialah hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang lemah yang menyalahi riwayat orang kepercayaan, atau riwayat orang yang kurang lemah dari padanya. Lawannya dinamai ma’ruf.
Contoh:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ ، نا عَبْدُ الرَّزَّاقِ ، نا مَعْمَرٌ ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ ، عَنِ الْعَيْزَارِ بْنِ حُرَيْثٍ ، أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ ، أَتَاهُ الْأَعْرَابُ , فَقَالَ : ” مَنْ أَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَحَجَّ الْبَيْتَ وَقَرَى الضَّيْفَ دَخَلَ الْجَنَّةَ “ *
“Barangsiapa yang mendirikan shalat, membayarkan zakat, mengerjakan haji dan menghormati tamu, niscaya masuk surga.” (HR Abu Ishaq dari Abdullah bin Abbas)”

Hadis di atas memiliki ar-ruwât (para periwayat) yang lemah dan matannya pun berlainan dengan matan-matan hadis yang lebih kuat.

c.Hadits Syadz
Hadits syadz ialah hadits yang diriwaytkan oleh perawi yang kepercayaan yang menytalahi riwayat orang rana yang kepercayaan pula.
Dalam hal itu, ada yang tidak mensyaratkan mukhallafah. Mereka berpendapat, bahwa syadz itu ialah sesuai yang diriwayatkan oleh hanya seorang kepercayaan, tidak ada orang yang meriwayatkan hadits itu srlain dari orang itu sendiri.
d.Hadits Mu’allal
Hadits mu’allal ialah hadits yang terdapat padanya sebab-sebab yang tersembunyi yang diketahui sebab-sebab itu sesudah dilakukan pemeriksaan yang mendalam, sedang pada lahirnya dia tidak ber penyakit.
Menemukan cacat (illat) hadits ini membutuhkan pengetahuan yang luas, ingatan yang kuat dan pemahaman yang cermat. Sebab, illat itu sendiri samar lagi tersembunyi, bahkan bagi orang-orang yang menekuni ilmu hadits-hadits. Ibnu Gajar berkata “menemukan illat ini termasuk bagian ilmu hadits yamg paling samara dan paling rumit. Yang bias melaksanakannya hanyalah orang yang oleh Allah di beri pemahaman yang tajam, pengetahuan yang sempurna terhadap sanad-sanad dan matan-matan.

Cara mengenal hadits mu’allal adalah dengan mengumpulkan jalur-jalur para perawinya, kekuatan ingatan mereka, serta kepintaran mereka.
Contoh:
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا
“(Rasulullah s.a.w. bersabda): “penjual dan pembeli boleh berkhiyar, selama mereka belum berpisah”.
Hadis di atas diriwayatkan oleh Ya’la bin Ubaid dengan bersanad pada Sufyan ats-Tsauri, dari ‘Amru bin Dinar, dan selanjutnya dari Ibnu Umar. Matan hadis ini sebenarnya shahih, namun setelah diteliti dengan seksama, sanadnya memiliki ‘illat. Yang seharusnya dari Abdullah bin Dinar menjadi ‘Amru bin Dinar.

3.Keterputusan yang tidak jelas dan tersembunyi. Ini tidak dapat diketahui kecuali para ulama yang mendalami jalan hadits dan illat-illat.
a.Hadits Mudltharab

Hadits mudltharab ialah Hadits yang berlawan-lawanan riwayatnya atau matannya, baik di lakukan oleh perawi yang seorang atau oleh banyak perawi, dengan mendahulukan, mengemudiakan, menambah, mengurangi ataupun mengganti, serta tidak dapat di kuatkan salah satu riwayatnya atau satu matannya.
Contoh idlthirab pada sanad ialah pada hadits Abu Bakar. Ia bertanya kepada Rasulullah s.a.w. “ya rosulallah, aku melihat anda berubah.” Rasulullah bersabda “Surat Hud dan semisalnya telah membuatku berubah.”
b.Hadits Maqlub
Hadits maqlub ialah sesuatu hadits yang telah terjadi padanya kekhilafan pada seorang perawi dengan mendahulukan yang kemudian, atau mengemudiankan yang dahulu.
c.Hadits Mudraj
Hadits mudraj ialah Hadits yang di sisipkan kedalam matannya sesuatu perkataan perkataan orang lain, baik orang itu shahaby, ataupun tabi’in untuk menerangkan makna.
Sesuatu hadits yang dapat di ketahui mana kata-kata yang kedalamnya, dapat di pandang shahih dengan mengeluarkan kata-kata itu. Tetapi jika tidak lagi dapat di bedakan nama kata-kata sisipan itu, masuklah ia kedalam dha’if.
d.Hadits Mushahaf
Gaduts Mushahhaf ialah hadits yang telah terjadi pada perubahan huruf sedang rupa tulisannya masih tetap.
e.Hadits Muharaf.
Hadits Muharaf ialah hadits yang telah terjadi padannya perubahan baris.
f.Hadits Mubham
Hadits mubham ialah hadits yang terdapat dalam sanadnya seorang perawi yang tidak disebut namanya baik lelaki maupun perempuan.

2.5Kehujjahan Hadits Dha’if
Adapun tentang hadits dha’if, ada dua pendapat tentang boleh atau tiudaknya diamalkan, atau dijadikan hujjah. Yakni :
1.Imam bukhari, Muslim, Ibnu Hasm dan Abu Bakar Ibnul Araby menyatakan,hadits dha’if sama sekali tidak boleh diamalkan atau jadikan hujjah, baik untuk masalah yang berhubungan dengan hokum maupun untuk keutamaan amal.

2.Imam Ahmad bin Hambal, Abdur Rahman bin Mahdi dan Ibnu Hajar Al-Asqalany menyatakan, bahwa hadits dha’if dapat dijadikan hujjah (diamalkan) hanya untuk dasar keutamaan amal (fadla’ilul’amal), dengan syarat:
a.Para rawi yang meriwayatkan hadits itu, tidak terlalu lemah.
b.Maslah yang dikemukakan oleh hadits itu, mempunyai dasar pokok yang ditetapkan oleh Al-qur’an dan hadits shahih.
c.Tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat.
Prof T. M Hasbi mengingatkan, bahwa yang dimaksud dengan “fadlalluamal” atau keutamaan amal dalam hal ini, bukanlah dalam arti untuk menjelaskan tentang faedah atau kegunaan dari sesuatu amal. Adapun yang berhubungan dengan penetapan hukum, demikian prof. Hasbi menjelaskan, para ulama hadits sepakat tidak membolehkan menggunakan hadits dha’if sebagai hujjah atau dalilnya.
Dokter Muhammad Ajjaj Al-Khattib menyatakan, bahwa golongan yang menolak hadits dha’if sebagai hujjah adalah golongan yang lebih selamat. Diantara alasannya, bahwa baik soal fadla’ilul’amal, maupun soal maqrimul ahlaq, merupakan bagian dari tiang agama, sebagaimana halnya masalah huku, karena itu, hadits yang dapat dijadikan hujjah untuk menetapkannya, haruslah hadits yang berkualitas shahih atau hasan dan yang bukan berkualitas Dha’if.
Dengan pendapat para ulama tersebut dapat disimpulkan, bahwa memang sangat perlu untuk mengetahui kualitas suatu hadits agar terhindar dari pengalaman agama atau pengungkapan dalil agama berdasarkan hadits dha’if.

BAB III
KESIMPULAN

Kata dhaif menurut bahasa, berarti lemah, sebagai lawan dari qawi (yang kuat). Sebagai lawan dari kata shahih, kata dhaif juga berarti saqim (yang sakit). Maka sebutan hadis dhaif secara bahasa berarti hadis yang lemah, yang sakit, yang tidak kuat. Secara terminologis, para ulama mendefinisikannya dengan redaksi yang beragam, meskipun maksud dan kandungannya sama.
Pada hadits dhaif banyak dugaan bahwa hadits tersebut bukan berasal dari Rasulullah, disebabkan ada kecacatan pada perawi , pada meriwayatkan hadits tersebut. Tetapi bukan berarti hadits tersebut tidak benar. Karena para ulama ahli hadits tidak sembarangan dalam menetapkan keshahihan suatu hadits. Inilah bukti ketelitian para ulama ahli hadits dalam mengambil hadits tersebut dari para perawi.
Hadis dha’if dapat dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu : hadis dha’if karena gugurnya ar-râwiy dalam sanadnya, dan hadis dha’if karena adanya cacat pada ar-râwiy atau matn (matan/teks).

DAFTAR PUSTAKA

Hariyanto, Muhsin. 2013. HADIS SHAHIH, HASAN DAN DHA’IF: Pengertian, Ciri-ciri dan Kehujahannya. http://muhsinhar.staff.umy.ac.id/hadis-shahih-hasan-dan-dhaif-pengertian-ciri-ciri-dan-kehujahannya/. Diakses 29 September 2014.
Cheche, Wardah. 2013. Hadits Dhaif. http://wardahcheche.blogspot.com/2013/05/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html. Diakses 29 September 2014.
Islam Untuk Semua. Kriteria Hadits Dha’if?. http://halaqah.net/v10/index.php?topic=15703.0. Diakses 29 September 2014.
Cokol Flavor. 2011. PENGERTIAN AL HADITS / AS SUNNAH.  http://cokolflavor.blogspot.com/p/pengertian-al-hadits-as-sunnah.html. Diakses 29 September 2014.

Islam2u. Pengertian Hadits. http://www.islam2u.net/index.php?option=com_content&view=article&id=102:pengertian-hadits&catid=20:fatwa&Itemid=65. Diakses 29 September 2014.
Dhuha, Syamsu. 2012. Makalah Macam-Macam Hadits Dhaif. http://armayant.blogspot.com/2012/06/makalah-macam-macam-hadits-dhaif.html. Diakses 29 September 2014.


No comments:

Post a Comment