Friday, October 6, 2017

Makalah Thabaqat Ar-Ruwat


BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini teknologi informasi dan komunikasi perkembangannya semikin pesat, dunia berada dalam genggaman tangan kita, hampir segala aktivitas kehidupan kita menggunakan dan memanfaatkan kecanggihan teknologi, tanpa sadar dengan kecanggihan teknologi urusan agama tidak diutamakan lagi, dan banyak orang semakin tinggi ilmunya dan semakin sukses lupa dengan agama, padahal agama adalah awal mula dari semua perkembangan dan kemajuan teknologi.
Dalam agama islam ada dua hal yang ditinggalakn oleh nabi Muhammad SAW kepada kita umatnya, dan jika kita perpegang teguh kepada keduanya maka kita tidak akan pernah tersesat, dua hal tersebut adalah al-qur’an dan sunnah Nabi. Dalam memahami sunnah atau hadist Nabi Muhammad SAW kita harus mengetahui segala hal yang berkaitan dengan orang-orang yang meriwayatkan hadist,  Mulai dari nama lengkapnya, julukannya, nama panggilannya, tempat tanggal lahir maupun wafatnya, tempat domisilinya, tempat-tempat yang pernah dikunjunginya (rihlah), guru-gurunya, maupun thabaqat-nya. Sehingga kita tahu tingkatan dari perawi-perawi hadist atau sering disebut dengan Thabaqat ar-Ruwat.
Berdasarkan latar belakang diatas maka dalam makalah ini kami akan membahas tentang Thabaqat ar-Ruwat atau dalam bahasa indonesianya disebut dengan tingkatan perawi hadist, sehingga kita semua dapat memahami tentang Thabaqat ar-Ruwat.

B.Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat kita rumuskan permasalahan sebagai berikut :
1.Apa yang dimaksud Rijalalul Hadist ?
2.Apa yang dimaksud dengan Thabaqat ar-Ruwat ?
3.Berapakah Thabaqat (tingkatan) dalam perawi ?
C.Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.Untuk Mengetahui Tentang Rijalul Hadist.
2.Untu mengetahui tentang thabaqat ruwat.
3.Untuk mengetahui tentang jumlah tingkatan dalam perawi.

BAB II
PEMBAHSAN
A.Pengertian Rijalul Hadits  Dan Thabaqat Ar-Ruwat
a.Pengeretian Rijalul hadist
Rijalul hadist  atau Tarikh Ar-Ruwwat (Ilmu Sejarah Perawi) merupakan ilmu yang mempelajari tentang sejarah para perawi hadist, seperti tempat kelahiran, tanggal dan tahun kelahiran, tahun wafat, guru-gurunya, orang yang meriwayatkan darinya. dan Tarikh Rijal Al-Hadits ini akan sangat membantu untuk mengetahui derajat hadits dan sanad (apakah sanadnya muttashil atau munqathi’).
Tujuan Ilmu ini adalah untuk mengetahui bersambung(muttasil) atau tidaknya sanad suatu hadits. Maksud persaambungan sanad adalah petemuan langsung apakah perawi berita itu bertemu langsung dengan gurunya atau pembawa berita ataukah tidak atau hanya pengakuan saja. Semua itu dapat dideteksi melalui ilmu ini. Muttasilnya sanad ini menjadi salah satu syarat kesahihan suatu hadits dari segi sanad. Ilmu ini berkaitan dengan perkembangan riwayat. Para ulama sangat perhatian terhadap ilmu ini dengan tujuan mengetahui para perawi dan meneliti keadaan mereka. Karena dari situlah mereka menimba ilmu agama. Muhammad bin Sirin pernah mengatakan : "Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil agamamu" (Muqaddimah Shahih Muslim).
Pertama kali orang yang sibuk memperkenalkan ilmu ini secara ringkas adalah Al-Bukhari (w.230 H) kemudian Muhammad bin sa’ad (w.230 H) dalam Thabaqatnya. Kemudian berikutnya Izzuddin Bin al-Atsir(w.630 H) menulis Usud Al-Ghabah Fi Asma Ash-Shahabah, Ibnu hajar Al-asqalani (w.852 H) yang menulis Al-Ishabah Fi Tamyiz Ash-shahabah kemudian diringkas oleh as-suyuthi(w.911 H ) dalam bukunya yang berjudul ‘ayn Al-Ishabah. Al-Wafayat karya Zabir Muhammad bin Abdullah Ar-rubi (w.379 H).


b.Pengertian Thabaqat Ar-ruwat
Thabaqat menurut bahasa adalah suatu kaum yang memiliki kesamaan dalam suatu sifat. Secara istilah, adalah suatu kaum yang hidup dalam satu masa dan memiliki keserupaan dalam umur dan sanad, yakni pengambilan hadis dari para guru.
Mahmud Thahan mengemukakan, bahwa Tabaqat adalah kaum yang berdekatan atau sebaya dalam usia dan dalam isnad atau dalam isnad saja. Dalam pengertian ini, tabaqat identik dengan generasi dari sisi kebersamaan dalam berguru. Kadangkala para muhaditsin (ahli hadis) menganggap bahwa kebersamaan dalam menimba ilmu hadis adalah cukup bisa dikatakan satu tabaqah, sebab pada umumnya mereka memiliki kebersamaan dalam umur.Sedangkan kata ar-Ruwat jamak dari kata rawi, yaitu yang menerima, memelihara dan menyampaikan kepada orang lain dengan menyebutkan sumber pemberitaannya.
Dengan demikian, Tabaqat ar-Ruwat, adalah pengelompokan orang yang menerima, memelihara dan menyampaikan hadis yang hidup dalam satu generasi atau satu masa dan dalam periwayatan atau isnad yang sama atau sama dalam periwayatan saja. Maksud berdekatan dalam isnad adalah satu perguruan atau satu guru atau diartikan berdekatan dalam berguru. Jadi, para gurunya sebagian periwayat juga menjadi guru bagi sebagian perawi lain. Para rawi pada masa tertentu akan berbeda dengan rawi masa berikutnya.
Ilmu thabaqat ar-ruwat telah muncul dan berkembang di tangan para ulama hadits sejak abad ke-2 H. Ilmu ini tidak terbatas pada pembagian ruwaat atas thabaqat berdasarkan perjumpaan mereka terhadap syuyukh, tapi juga berkembang di kalangan muhadditsin kepada pembagian mereka berdasarkan makna dan I’tibar yang lainnya seperti fadhl (keistimewaan) dan sabiqah (kesenioran) sebagaimana dalam hal sahabat, atau hal (keadaan) dan manzilah (kedudukan) seperti yang disebutkan oleh Abbas Ad Dauraqi (wafat 271 H), ada thabaqat fuqaha, thabaqat ruwaat, thabaqaat mufassirin dan seterusnya

B.Tingkatan Perawi Hadist
Al-Haafizh Syihaabuddiin Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy rahimahullah dalam kitab beliau, Taqriibut Tahdziib, telah membagi-bagi para perawi ke dalam beberapa thabaqah. Dimulai dari yang pertama berturut-turut hingga urutan selanjutnya, mereka adalah :
1.Tingkatan Pertama (Para sahabat dengan berbagai perbedaan tingkat kemuliaan mereka)
Para sahabat berbeda-beda tingkatannya, mulai dari para sahabat senior yaitu mereka yang pertama-tama kali masuk Islam pada periode awal Makkah, berlanjut hingga mereka yang hijrah ke Habasyah, para sahabat yang berbai’at di bai’atul ‘Aqabah dari bai’at pertama hingga kedua, para sahabat yang berhijrah ke Madinah, para sahabat dari kaum Anshar dan qabilah-qabilah sekitar kota Madinah, para sahabat ahlu Badr, para sahabat yang berbai’at di bai’atur Ridhwan, para sahabat yang masuk Islam pasca Hudaibiyah, para sahabat yang masuk islam pada periode Fathu Makkah hingga para sahabat yang mereka masih anak-anak ketika mereka melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mereka sedikit meriwayatkan dari beliau.
2.Tingkatan Kedua  (tabi’in senior)
Mereka adalah periwayat para sahabat dan murid-murid mereka, dan termasuk pada thabaqah ini adalah para mukhadhram. Definisi mukhadhram menurut Al-Haafizh As-Sakhaawiy rahimahullah dalam Fathul Mughiits adalah mereka yang mengalami masa jahiliyyah sebelum atau sesudah diutusnya Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam baik ketika mereka masih kecil atau sudah dewasa pada masa hidupnya Rasulullah namun mereka tidak pernah melihat beliau, atau sempat melihat beliau namun belum memeluk Islam, kemudian mereka memeluk Islam pada masa Rasulullah atau setelah wafatnya beliau.
Para perawi hadits yang termasuk thabaqah kedua diantaranya adalah : Sa’iid bin Al-Musayyib, Muhammad bin ‘Aliy bin Abi Thaalib (Muhammad Al-Hanafiyyah), ‘Abdurrahman bin Abu Lailaa, ‘Athaa’ bin Yasaar, Abu Idriis Al-Khaulaaniy, Humaid bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Alqamah bin Qais An-Nakha’iy, Haaritsah bin Mudhrib, ‘Alqamah bin Waqqaash Al-Laitsiy, Sa’d bin ‘Ubaid maulaa Ibnu Azhar, Kaisaan Abu Sa’iid Al-Maqburiy, Abu ‘Abdirrahman As-Sulamiy, dan lain-lain.
Para perawi hadits yang termasuk mukhadhram diantaranya adalah : Masruuq bin Al-Ajda’, Abu Waa’il Syaqiiq bin Salamah, Qais bin Abu Haazim, ‘Amr bin Syurahbiil Al-Kuufiy, Abu Muslim Al-Khaulaaniy, Al-Ahnaf bin Qais, Al-Aswad bin Yaziid, Abu ‘Utsmaan An-Nahdiy, Zirr bin Hubaisy, Ar-Rabii’ bin Khutsaim, Ka’b bin Maata’ (Ka’b Al-Ahbaar), dan lain-lain
3.Tingkatan Ketiga (tabi’in pertengahan)
Mereka meriwayatkan dari para sahabat, dan sebagian tabi’in senior. Para perawi yang termasuk thabaqah ketiga diantaranya adalah : Al-Hasan Al-Bashriy, Muhammad bin Siiriin, ‘Aliy bin Al-Husain bin ‘Aliy bin Abi Thaalib (‘Aliy Zainul ‘Abidin), ‘Aamir Asy-Sya’biy, Naafi’ maulaa Ibnu ‘Umar, Mujaahid bin Jabbaar, ‘Ikrimah maulaa Ibnu ‘Abbaas, Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’iid bin Jubair, ‘Athaa’ bin Abi Rabbaah, Saalim bin ‘Abdullaah bin ‘Umar, Thaawus, Ibnul Munkadir, Dzakwaan Abu Shaalih As-Sammaan, Abu Qilaabah Al-Jarmiy, Khaarijah bin Zaid bin Tsaabit, Al-Qaasim bin Muhammad bin Abu Bakr, Shafwaan bin Ya’laa, ‘Urwah bin Az-Zubair, Ibraahiim An-Nakha’iy, Sa’iid bin Kaisaan Abu Sa’iid, Al-A’raj ‘Abdurrahman bin Hurmuz, Khaalid bin Ma’daan, Abu Ishaaq As-Sabii’iy, Ibnu Abi Mulaikah, Zaid bin Aslam, Wahb bin Munabbih, dan lain-lain.
4.Tingkatan Keempat (Tingkatan tabi’in pertengahan, namun sebagian besar riwayat mereka berasal dari tabi’in senior)
Para perawi yang termasuk thabaqah keempat diantaranya adalah : Ibnu Syihaab Az-Zuhriy, Qataadah bin Di’aamah, Abu Az-Zubair Muhammad bin Muslim bin Tadrus, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziiz (Amiirul Mu’miniin), Muhammad bin ‘Aliy bin Al-Husain (Muhammad Al-Baaqir), ‘Abdullaah bin Diinaar, Muhammad bin Ibraahiim At-Taimiy, Sulaimaan bin Thurkhaan, Naafi’ bin Maalik Al-Ashbahiy, Maimuun bin Mihraan, Al-‘Alaa’ bin Ziyaad, An-Nu’maan bin Abu ‘Ayyaasy, Ismaa’iil bin Abu Khaalid, ‘Amr bin Diinaar, Tsaabit Al-Bunaaniy, Muhammad bin Ziyaad Al-Alhaaniy, Hammaam bin Munabbih, dan lain-lain.
5.Tingkatan Kelima (tabi’in junior, yang mana mereka melihat satu atau dua orang (sahabat) namun tidak tsabit penyimakan sebagian mereka dari para sahabat)
Para perawi yang termasuk thabaqah kelima diantaranya adalah : Al-A’masy Sulaimaan bin Mihraan, Makhuul Asy-Syaamiy, Muhammad bin Ishaaq (atau Ibnu Ishaaq, shahibul maghaziy), Hisyaam bin ‘Urwah, Ayyuub bin Abi Tamiimah (Ayyuub As-Sakhtiyaaniy), ‘Ubaidullaah bin ‘Umar bin Hafsh Al-‘Adawiy, Muhammad bin ‘Ajlaan, Yahyaa bin Sa’iid Al-Anshaariy, Rabii’ah bin ‘Abdurrahman (Rabii’ah Ar-Ra’yi, guru Imam Maalik), Muusaa bin ‘Uqbah, Yahyaa bin Abu Katsiir Ath-Thaa’iy, Daawud bin Abi Hind, Yaziid bin Humaid Adh-Dhabi’iy, ‘Abd Rabbih bin Sa’iid, Abu Ishaaq Sulaimaan bin Abu Sulaimaan Asy-Syaibaaniy, ‘Athaa’ bin As-Saa’ib, Abu Az-Zinaad ‘Abdullaah bin Dzakwaan, dan lain-lain.
6.Tingkatan Keenam (tabi’in junior yang sezaman dengan thabaqah kelima, namun tidak tsabit perjumpaan mereka dengan satu sahabatpun)
Para perawi yang termasuk thabaqah keenam diantaranya adalah : Ibnu Juraij, Al-Imam Abu Haniifah An-Nu’maan bin Tsaabit, Ja’far bin Muhammad bin ‘Aliy (Ja’far Ash-Shaadiq), Jariir bin Haazim, Sa’iid bin Abu ‘Aruubah, Salmaan Abu Rajaa’ maulaa Abu Qilaabah, ‘Abdullaah bin ‘Aun, Suhail bin Dzakwaan Abu Shaalih, Mahdiy bin Maimuun, Al-‘Alaa’ bin Al-Musayyib, Rauh bin Al-Qaasim, Zaid bin Abu Unaisah, Khaalid bin Abu Yaziid, Muslim bin ‘Imraan Al-Bathiin, ‘Abdullaah bin Sa’iid bin Abu Hind, Muusaa bin Naafi’ Al-Asadiy, Al-Mughiirah bin Miqsam, dan lain-lain.
7.Tingkatan Ketujuh murid senior dari tabi’in (atba’ut tabi’in senior)
Para perawi yang termasuk thabaqah ketujuh diantaranya adalah : Al-Imam Maalik bin Anas, Sufyaan Ats-Tsauriy, Al-Auzaa’iy ‘Abdurrahman bin ‘Amr, Syu’bah bin Al-Hajjaaj, Al-Laits bin Sa’d, Zaa’idah bin Qudaamah, Ibnu Abi Dzi’b, Ma’mar bin Raasyid, Tsaur bin Yaziid, Zuhair bin Muhammad At-Tamiimiy, Zuhair bin Mu’aawiyah, Sa’iid bin ‘Abdul ‘Aziiz At-Tanuukhiy, Abu Haasyim Khaalid bin Yaziid Ad-Dimasyqiy, Yuunus bin Yaziid Al-Qurasyiy, ‘Abdurrahman bin Yaziid bin Jaabir Al-Azdiy, Husyaim bin Basyiir, Ibraahiim bin Thuhmaan, Hammaam bin Yahyaa bin Diinaar, Wuhaib bin Al-Ward, Wuhaib bin Khaalid Al-Baahiliy, dan lain-lain.
8.Tingkatan Kedelapan murid pertengahan dari tabi’in (atba’ut tabi’in pertengahan)
Para perawi yang termasuk thabaqah kedelapan diantaranya adalah : Sufyaan bin ‘Uyainah, Ismaa’iil bin Ibraahiim bin Miqsam (lebih dikenal dengan nama Ismaa’iil bin ‘Ulayyah), Al-Waliid bin Muslim, Baqiyyah bin Al-Waliid, Jariir bin ‘Abdul Hamiid, Ziyaad bin ‘Abdillaah Al-Bakkaa’iy, ‘Abdullaah bin Idriis, ‘Abdullaah bin Al-Mubaarak, Muslim bin Khaalid Az-Zanjiy (guru Imam Asy-Syaafi’iy), Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Sulaimaan bin Bilaal, Fudhail bin ‘Iyyaadh, Ismaa’iil bin ‘Ayyaasy, Marwaan bin Mu’aawiyah Al-Fazariy, Shadaqah bin Khaalid Al-Umawiy, Muhammad bin Muslim bin Abu Fudaik (lebih dikenal dengan nama Ibnu Abu Fudaik), Hafsh bin Ghiyaats, dan lain-lain.
9.Tingkatan Kesembilan murid junior dari tabi’in (atba’ut tabi’in junior)
Para perawi yang termasuk thabaqah kesembilan diantaranya adalah : Al-Imam Muhammad bin Idriis Asy-Syaafi’iy, Yaziid bin Haaruun, Abu Daawud Ath-Thayaalisiy, ‘Abdurrazzaaq bin Hammaam Ash-Shan’aaniy (pemilik Mushannaf), Mu’tamir bin Sulaimaan, ‘Abdurrahman bin Mahdiy, ‘Abdullaah bin Wahb, Wakii’ bin Al-Jarraah, Yahyaa bin Sa’iid Al-Qaththaan (An-Naaqid), Abu Nu’aim Al-Fadhl bin Dukain, ‘Abdullaah bin Maslamah Al-Qa’nabiy, Sulaimaan bin Harb, Syaibaan bin Farruukh, Bisyr bin ‘Umar Az-Zahraaniy, Abu An-Nu’maan Muhammad bin Al-Fadhl, Ja’far bin ‘Aun, ‘Abdullaah bin Numair, Muhammad bin Himyar Al-Qudhaa’iy, ‘Aliy bin Al-Ja’d, dan lain-lain.
10.Tingkatan Kesepuluh senior dari tabi’ul atba’, mereka tidak bertemu dengan para tabi’in.
Para perawi yang termasuk thabaqah kesepuluh diantaranya adalah : Al-Imam Ahmad bin Hanbal, ‘Affaan bin Muslim, Zuhair bin Harb, ‘Abdullaah bin Abi Syaibah (atau Ibnu Abi Syaibah, pemilik Mushannaf), dan saudaranya ‘Utsmaan bin Abi Syaibah, Yahyaa bin Ma’iin (Imam jarh wa ta’diil), ‘Aliy bin Al-Madiiniy (Imam ‘ilal hadits), Muhammad bin ‘Abdullaah bin Numair, Abu Bakr Al-Humaidiy (pemilik Musnad), Qutaibah bin Sa’iid, Yuusuf Al-Buwaithiy, Ibnu Sa’d (pemilik Ath-Thabaqaatul Kubraa), Daawud bin Rasyiid, Muhammad bin Basysyaar (Bundaar), Musaddad bin Musarhad, Nu’aim bin Hammaad, Ishaaq bin Raahawaih, Ahmad bin Shaalih Al-Mishriy, Muhammad bin Al-Mutsannaa, dan lain-lain.
11.Tingkatan Kesebelas pertengahan dari tabi’ul atba’
Para perawi yang termasuk thabaqah kesebelas diantaranya adalah : Dua imam besar, Al-Bukhaariy dan Muslim (Asy-Syaikhain), Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Hulwaaniy, Muhammad bin Yahyaa Adz-Dzuhliy, Abu Daawud As-Sijistaaniy (pemilik kitab Sunan), ‘Abdullaah bin ‘Abdirrahman Ad-Daarimiy (pemilik kitab Sunan), Ishaaq bin Manshuur, Abu Haatim Muhammad bin Idriis bin Al-Mundzir Ar-Raaziy, Abu Zur’ah ‘Ubaidullaah bin ‘Abdul Kariim Ar-Raaziy, Ar-Rabii’ bin Sulaimaan Al-Muraadiy, Ibraahiim bin Ya’quub Al-Jauzajaaniy, Abul Ahwash Muhammad bin Al-Haitsam, Ya’quub bin Sufyaan Al-Fasawiy, ‘Abbaas Ad-Duuriy, dan lain-lain.
12.Tingkatan Keduabelas junior dari tabi’ul atba’.
Para perawi yang termasuk thabaqah keduabelas diantaranya adalah : At-Tirmidziy Muhammad bin ‘Iisaa (pemilik kitab Jaami’), Ibnu Maajah Al-Qazwiiniy (pemilik kitab Sunan), Abu ‘Abdirrahman An-Nasaa’iy (pemilik kitab Sunan), Zakariyaa bin Yahyaa As-Saajiy, Ibnu Abid Dunya, ‘Abdullaah bin Ahmad bin Hanbal, dan lain-lain.
Adapun rentang tahun kelahiran  para perawi hadist diatas terbagi kedalam tiga bagian rentang tahun kelahiran, yaitu :
a.Tingkat 1 dan 2  lahirnya sebelum tahun 100 H.
b.Tingkatan 3 - 8, lahirnya setelah tahun 100 H.
c.Tingkatan 9 - 12, lahirnya setelah tahun 200 H.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Rijalul hadist  atau Tarikh Ar-Ruwwat (Ilmu Sejarah Perawi) merupakan ilmu yang mempelajari tentang sejarah para perawi hadist, seperti tempat kelahiran, tanggal dan tahun kelahiran, tahun wafat, guru-gurunya, orang yang meriwayatkan darinya. dan Tarikh Rijal Al-Hadits ini akan sangat membantu untuk mengetahui derajat hadits dan sanad (apakah sanadnya muttashil atau munqathi’).
Dengan demikian, Tabaqat ar-Ruwat, adalah pengelompokan orang yang menerima, memelihara dan menyampaikan hadis yang hidup dalam satu generasi atau satu masa dan dalam periwayatan atau isnad yang sama atau sama dalam periwayatan saja. Maksud berdekatan dalam isnad adalah satu perguruan atau satu guru atau diartikan berdekatan dalam berguru. Jadi, para gurunya sebagian periwayat juga menjadi guru bagi sebagian perawi lain. Para rawi pada masa tertentu akan berbeda dengan rawi masa berikutnya.
Al-Haafizh Syihaabuddiin Ibnu Hajar Al-‘Asqalaaniy rahimahullah dalam kitab beliau, Taqriibut Tahdziib, telah membagi-bagi para perawi ke dalam dua belas tingkatan.
B.Saran
Demikian makalah yang dapat kami tulis tentang thabaqat ar-ruwat, materi pokok yang menjadi bahan bahasan dalam makalah kami ini masih banyak kekurangan, karena terbatasnya pengetahuan kami, karena kami dalam proses pembelajaran
Kami banyak berharap teman-teman dan dosen kami  yang membaca dapat memberikan kritik dan saran yang membangun kepada kami demi sempurnanya makalah ini dan dapat memperbaikinya pada makalah-makalah berikutnya.
Semoga makalah ini dapat berguna bagi kami dan juga khususnya teman-teman lainya amin.

DAFTAR PUSTAKA
Referensi makalah. 2013. “Pengertian Tabaqat al-Ruwat dalam Ilmu Hadis “.http://www.referensimakalah.com/2012/08/pengertian-tabaqat-al ruwah-dalam-ilmu-hadis.html. Diakses Pada 26 September 2014
Al-Muhandisun. 2013. “Mengenal Thabaqah Para Perawi Hadits Dalam Kutub As-Sittah”. http://muhandisun.wordpress.com/2013/12/19/mengenal-thabaqah-para-perawi-hadits-dalam-kutub-as-sittah/. Diakses Pada 16 September 2014.
Takhrij. 2012. “Thabaqat ar-Ruwat (Tingkatan para Perawi Hadis)”. http://takhrij.blogspot.com/2012/04/thabaqat-ar-ruwat-tingkatan-para-perawi.html. Diakses Pada 26 September 2014.
Annaufal. 2009. “Tingkatan Hadits Shahih dan Tingkatan Para Perawi  “.http://annaufal.wordpress.com/2009/04/11/tingkatan-hadits-shahih-dan-tingkatan-para-perawi/. Diakses Pada 26 September 2014.
Saputra Heru. 2012. ” Ilmu Rijalul hadist “.http://ilmurijalulhadits.blogspot.com/. Diakses Pada 26 September 2014.

No comments:

Post a Comment